Sabtu, 24 September 2011

Berikan dulu kepada Ayyasy!

Sebuah hadits menyebutkan “Ada seseorang yg beramal dengan amalan ahli surga tinggal jaraknya antara surga itu tinggal sehasta tapi didahului oleh ketentuan Allah diapun masuk kedalam neraka,dan ada seseorang yg beramal dengan amalan ahli neraka,tinggal jarak antara dia dan neraka itu sehasta saja tetapi di dahului oleh ketentuan Allah diapun masuk kedalam surga “

Hadits riwayat Imam Bukhori ini mengajarkan kita agar berhati hati dalam hidup ini dan agar kita tidak mudah untuk memvonis seseorang apa dia termasuk ahli syurga atau ahli neraka. Sesungguhnya kita tak pernah tahu akan hidayah yang Allah beri kepada hambanya. Tugas kita adalah mengabdi dalam rangka beribadah kepada Allah dengan sebaik baiknya dan berdoa semoga hidayahNya senantiasa kekal di hati kita.

Terdapat satu kisah tentang seorang Sahabat Nabi SAW yang begitu getol memusuhi Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Semua daya dan upaya ia kerahkan untuk mematahakan dakwah Rasulullah. Apalagi ayah anak itu adalah pembesar Kaum Quraisy yang paling jahat memusuhi Nabi yaitu Abu Jahal laknatullah.

Namanya adalah Ikrimah bin Abu Jahal. Dia masuk islam setelah Fathul Mekkah. Rasulullah SAW memberikan maaf kepadanya dan menjelaskan kepada para sahabatnya bahwa Ikrimah akan menjadi mukmin sejati dan turut membela Islam diakhir hidupnya.
Tak berapa lama, Ikrimah dan istrinya tiba di majlis Rasulullah. Di hadapan beliau, Ikrimah mengucapkan syahadat. Setelah mengucap kalimat syahadat Ikrimah berkata dengan keyakinan yang sungguh sungguh “ Ya Rasulullah Demi Allah, tak satu dirham pun dana yang telah saya keluarkan untuk menentang agama Allah di masa lalu, melainkan mulai saat ini saya tebus dengan mengorbankan hartaku berlipat ganda demi agama Allah. Tak ada seorang pun mukmin yang gugur di tanganku dimasa lalu, melainkan akan kutebus dengan membunuh kaum musyrikin berlipat ganda,” ujar Ikrimah.

Ikrimah membuktikan kata katanya. Setelah masuk Islam, ia menjadi seorang hamba yang rajin beribadah. Seringkali dia menangis dengan air mata berlinang merenungi ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacanya. Ia pun menggabungkan diri dalam setiap pasukan perang kaum muslimin di barisan paling depan.

Peristiwa yang menghantarkan kesyahidannya terjadi pada waktu perang Yarmuk, Ikrimah maju berperang dengan semangat berkobar kobar. Tak terbersit dalam benaknya untuk mundur sejengkalpun. Dia menujukkan kelihaiannya bermain pedang dengan luar biasa. Bahkan terkadang tindakannya berlebihan dalam menerjang pertahan musuh yang kuat sehingga bisa jadi akan membuat celaka kepada dirinya.Melihat hal seperti itu, Khalid bin Walid yang menjadi jenderal pasukan segera mengejar, “Ikrimah, engkau jangan bodoh! Kembali! Kematianmu adalah kerugian besar bagi kaum muslimin.”
Ikrimah tidak menghiraukan seruan tersebut malah ia menyahut, “Biarkan saja, ya Khalid! Biarkan saya menebus dosa-dosa yang telah lalu. Saya telah memerangi Rasulullah dalam beberapa medan peperangan. Pantaskah setelah masuk Islam saya lari dari tentara Romawi ini? Tidak! Sekali-kali tidak!” Kemudian ia berteriak, “Siapakah yang berani mati bersama saya?”

Beberapa orang pasukan muslim segera melompat ke samping Ikrimah dan memberikan perlawanan sengit. Kaum muslimin terus mendesak pasukan Romawi dan berhasil memukul mundur mereka dan kaum muslimin berhasil memperoleh kemenangan besar.
Di akhir pertempuran telah terbaring tiga mujahid muslim dalam keadaan kritis karena luka hebat yang mereka alami. Tiga mujahid itu adalah Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabiah, dan Ikrimah bin Abu Jahal.

Harits bin Hisyam dengan suara lirih terbata bata minta air minum. Ketika air didekatkan ke mulutnya, ia melihat kesebelahnya dan ada Ikrimah dalam keadaan seperti yang ia alami. “Berikan dulu air ini kepada Ikrimah!” ujar Harits. Lalu orang yang membawakan air menuju Ikrimah. Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat Ayyasy dalam keadaan kritis juga maka ia berkata “Berikan dulu kepada Ayyasy!” ujar Ikrimah.

Ketika air minum didekatkan ke mulut Ayyasy, dia telah meninggal. Innalillahi wainna ilaihi ra’jiun. Orang yang memberikan air minum segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun keduanya pun telah meninggal.

Inilah itsar teragung dalam rentetan sejarah kehidupan manusia sepanjang masa. Dalam keadaan sakaratul maut masih memikirkan keperluan saudaranya. Hal ini mustahil terjadi bila mereka tidak saling mencintai karena Allah. Cinta yang mereka tunjukkan adalah mencintai karena Allah. Inilah hakikat cinta yang sebenarnya. Cinta ini tidak akan pernah membawa sakit dan luka dan ia hanya akan membawa ridho kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar