Sabtu, 24 September 2011

Kisah Cinta Putri Pemimpin Para Nabi

Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda, tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama.

Tersebutlah kisah tentang putri pemimpin para nabi. Terlahir dari rahim ibundanya, seorang wanita bangan Quraisy, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyyah radhiallahu ‘anhu, saat ayahnya memasuki usia tiga puluh tahun. Dia bernama Zainab radhiallahu ‘anha bintu Muhammad bin ‘Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semasa hidup ibunya, sang putri yang menawan ini disunting oleh seorang pemuda, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid, saudari perempuan Khadijah. Ketika itu, Khadijah radhiallahu ‘anha menghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya. Dari pernikahan itu, lahir Umamah dan ‘Ali, dua putra-putri Abul ‘Ash.

Tatkala cahaya Islam merebak, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka hati Zainab radhiallahu ‘anha untuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yang berbeda…

Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab, namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi, Zainab radhiallahu ‘anha masih pula tertahan untuk bertolak ke bumi hijrah.

Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terukir peristiwa Badr. Dalam pertempuran itu, terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.

Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab radhiallahu ‘anha untuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenang pada Khadijah radhiallahu ‘anha yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat, “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan, lakukanlah hal itu.” Para shahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!”

Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu.

Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu bersama salah seorang Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab, lalu bawalah dia kemari.”

Berpisahlah Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas jalan Islam, meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan.

Menjelang peristiwa Fathu Makkah, Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, rombongan itu bertemu dengan seratus tujuhpuluh orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu, namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri.

Ketika gelap malam merambah, Abul ‘Ash dengan diam-diam menemui istrinya, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk meminta perlindungan.

Subuh tiba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat berdiri menunaikan Shalat Shubuh. Saat itu, Zainab radhiallahu ‘anha berseru dengan suara lantang, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’!”

Usai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap pada para shahabat sembari bertanya, “Kalian mendengar apa yang aku dengar?” “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apa pun sampai aku mendengar apa yang baru saja kalian dengar.”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui putrinya dan berpesan, “Wahai putriku, muliakanlah dia, namun jangan sekali-kali dia mendekatimu karena dirimu tidak halal baginya.” Zainab radhiallahu ‘anha menjawab, “Sesungguhnya dia datang semata untuk mencari hartanya.”

Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pasukan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu dan berkata pada mereka, “Sesungguhnya Abul ‘Ash termasuk keluarga kami sebagaimana kalian ketahui, dan kalian telah mengambil hartanya sebagai fai’ yang diberikan Allah kepada kalian. Namun aku ingin kalian berbuat kebaikan dan mengembalikan harta itu kepadanya. Akan tetapi kalau kalian enggan, maka kalian lebih berhak atas harta itu.” Para shahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami akan kembalikan harta itu padanya.”

Seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya dan tidak berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah pada pemiliknya. Lalu dia bertanya, “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?” Mereka menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan yang baik padamu. Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.” Abul ‘Ash pun kemudian menegaskan, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya! Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu, kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing, aku masuk Islam.” Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah, hingga bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Islam.

Enam tahun bukanlah rentang waktu yang sebentar. Akhir penantian yang sekian lama pun menjelang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan putri tercintanya, Zainab radhiallahu ‘anhu kepada suaminya, Abul ‘Ash bin Ar- Rabi’ radhiallahu ‘anhu, dengan nikahnya yang dulu dan tanpa menunaikan kembali maharnya. Dua insan kini bersama meniti jalan mereka …

Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan taqdir-Nya. Tak lama setelah pertemuan itu, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke hadapan Rabb-nya, pada tahun kedelapan setelah hijrah, meninggalkan kekasihnya untuk selamanya.

Di antara para shahabiyyah yang memandikan jenazahnya, ada Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha. Darinya terpapar kisah dimandikannya jenazah Zainab radhiallahu ‘anha, sesuai perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan guyuran air bercampur daun bidara. Seusai itu, rambut Zainab radhiallahu ‘anha dijalin menjadi tiga jalinan. Jenazahnya dibungkus dengan kain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putri pemimpin para nabi itu telah pergi…

Sumber :
- Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr

Read More......

Sahabat yang mendapat rekomendasi untuk berfatwa

Pada suatu hari terjadi dialog yang sangat mulia antara seseorang yang paling mulia diatas bumi ini yaitu Rasulullah SAW dan sahabatnya yang mulia yaitu Muaz bin Jabal r.a. Rasulullah SAW bertanya,” Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Muaz?, jawab Muaz bin Jabal r.a,” Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah” Berkata Rasulullah SAW,” Setiap kebenaran ada hakikatnya maka apakah hakikat keimananmu?” Jawab Muaz” Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi .Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya .Dan seolah-olah kesaksian setiap ummat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya . Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga .Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka. “Maka sabda Rasulullah SAW : Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan . . . . !

Sahabat Rasulullah SAW yang satu ini seseorang pemuda yang cerdas, wajah menarik dan nampak dari guratan wajahnyakeseriusan dibalut dengan ketenangan dalam bertutur kata dan dalam setiap sikap sehari harinya. Pada waktu perjanjian Aqobah dua berlangsung dia termasuk dari 70 orang yang berbaiat kepada Rasulullah SAW. Ia selalu menyertai Rasulullah SAW dalam setiap perjuangan. Dan senantiasa menghadiri majelis Rasulullah SAW sehingga dirinya tumbuh sebagai seorang yang faqih dan sangat paham dengan hukum hukum Islam mulai thaharah, sholat, zakat,muammalah, hukum waris hingga hukum pemerintahan dan lain lain.

Rasulullah SAW pernah memberikan pujian kepadanya dengan sabdanya,” Ummatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.” Dalam tafsir Imam Ibnu Katsir yang membahas QS Al Hujarat terdapat dialog yang menggambarkan kecermelangan otak dari seorang Muaz bin Jabal r.a. Suatu hari Rasulullah SAW hendak mengutus Muaz bin jabal r.a sebagi Gubernur di Yaman lebih dulu Beliau SAW bertanya : “Apa yang menjadi sandaranmu dalam mengadili sesuatu, hai Muaz?” Kitabullah”, ujar Mu’adz. “Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula. “Saya memutus dengan Sunnah RasulNya”, ujuar Muaz. “Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?” “Saya pergunakan akal fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia”, jawab Muaz dengan sungguh sungguh. Maka berseri-serilah wajah Rasulullah, sabdanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada kamu sebagai utusanku yang telah aku ridhai . . . .”. Subhanallah. Betapa anak muda yang satu ini telah tumbuh menjadi seorang alim yang sudah direkomendasi untuk memberikan fatwa oleh Rasulullah SAW secara langsung. Dalam bidang hadits ia juga dikenal banyak menghafal sabda sabda dari Rasulullah SAW.

Suatu hari pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a berkumpullah sekitar tigapuluh orang dimasjid membentuk suatu halaqah majelis ilmu. , masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang berpenampilan sangat menarik dan memiliki wajah yang tampan, bersih kulitnya, fasih dalam bertutur kata dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada diri mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya, dan ia tak akan berbicara kecuali bila diminta.Dan tatkala majlis itu berakhir, ada seseorang yang mendekati anak muda itu dan menanyakan siapa namanya, jawabnya: Saya adalah Muaz bin Jabal.”

Karena kecerdasan berfikirnya itu, Muaz bin Jabal r.a sering dimintai buah fikirannya dalam menyelesaikan berbagai masalah mulai dari penentuan halal dan haram, hukum waris, hukum tata pemerintahan dan masalah masalah lainnya. Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a pernah mengahadapi suatu problem dan lama tidak mendapat solusi maka ia memanggil Muaz bin Jabal r.a untuk diminta pendapatnya. Setelah masalah teratasi Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a berkata, “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar!”

Dan ternyata Muaz memiliki otak yang terlatih baik dan logika yang menawan serta memuaskan lawan, yang mengalir dengan tenang dan cermat. Dan di mana saja kita jumpai namanya kita dapati ia sebagai sahabat yang selalu menjadi pusat rujukan bertanya. Di mana ia duduk selalu dilingkungi oleh manusia. Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka dikembalikan kepada Muaz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah berbicara, adalah ia sebagimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara . . . .”

Menurut Muaz bin jabal r.a, ilmu itu ialah mengenal dan beramal, katanya: “Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian mafaat dengan ilmu itu sebelum kalian mengamalkannya lebih dulu . . . .!”
Baginya iman dan dzikir kepada Allah ialah selalu siap siaga demi kebesaran-Nya dan pengawasan yang tak putus-putus terhadap kegiatan jiwa. Salah seorang sahabatnya,Al-Aswad bin Hilal berkata, “Kami berjalan bersama Mu’adz, maka katanya kepada kami, Marilah kita duduk berdekatan dan menambah iman kita!”

Mungkin sikap dan pendiriannya itu terdorang oleh sikap jiwa dan fikiran yang tiada mau diam dan bergejolak sesuai dengan pendiriannya yang pernah ia kemukakan kepada Rasulullah, bahwa tiada satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali timbul sangkaan bahwa ia tidak akan mengikutinya lagi dengan langkah berikutnya. Hal itu ialah karena tenggelamnya dalam mengingat-ingat Allah dan kesibukannya dalam dirinya.

Sahabat yang mulia ini meninggal dunia di masa pemerintahan Umar bin khattab r.a, sedang usianya belum 33 tahun…semoga ini akan menjadikan kira rindu akan lahirnya Muaz Muaz lain dari rahim ibu atau istri istri kita..amiin

Read More......

Abdullah Ibnu Mas’ud

Dia adalah seorang sahabat Nabi SAW yang paling merdu suaranya ketika membaca Al Qur’an. Seorang yang alim, faqih, cerdas dan terpelajar dan seseorang yang selalu menyiapkan siwak dan sandal Rasulullah SAW. Sering juga dia membentangkan kain untuk hijab bila Rasulullah SAW sedang buang hajat dan mandi atau menyiapkan air untuk wudhu kekasihnya itu. Dialah Abdullah Ibnu Mas’ud.Suatu hari beliau SAW berkata kepadanya : “Bacakanlah kepadaku Al-Quran”, Abdullah bin Mas’ud berkata : saya membacakan Al-Quran atasmu sementara Al-Quran turun kepadamu ? Beliau SAW bersabda : “Aku sangat senang mendengar ayat Al-Quran dari selainku”, maka beliaupun membaca surat An-Nisa, maka Rasulullah SAW pun menangis dan berkata kepadanya : Cukuplah sampai disitu !” (HR Bukhari).

Abdullah Ibnu Mas’ud r.a juga merupakan sahabat yang paling banyak dalam menghafal Al Quran dengan kualitas suara yang sangat merdu. Karena itulah Rasulullah saw pernah bersabda : “Mintalah kalian akan bacaan Al-Quran pada empat sahabat : Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal”. (HR. Bukhari).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh Abdullah bin Mas’ud memanjat sebuah pohon untuk memetik buahnya, ketika para sahabat melihat betis kakinya mereka tertawa, maka Rasulullah saw bersabda : “Apa yang kalian tertawakan? sungguh kaki Abdullah bin Mas’ud lebih berat timbangannya pada hari kiamat dari siapapun”. (HR. Ahmad, Ibnu Sa’ad dan Abu Na’im)

Mengenai kepahamannya dalam hal seluk beluk Al Qur’an Abdullah bin Mas’ud r.a pernah berkata “ Saya mendapatkan dari lisan Rasulullah SAW tujuhpuluh puluh surat, sungguh aku lebih faham tentang kitabullah dari sahabat lainnya padahal aku tidak lebih baik dari mereka, dan tidak ada dalam kitabullah baik berupa surat ataupun ayat kecuali aku tahu dimana diturunkan dan kapan diturunkan”

Masa kecil Abdullah Ibnu Mas’ud dihabiskan dengan mengembalakan kambing milik tuannya Uqbah bin Mu’ith. Saat mengembalakan kambing inilah ia pertama kali bertemu dengan Rasulullah SAW yang waktu itu ditemani oleh Abu Bakar As Shiddiq. Pertemuan waktu itu begitu berkesan karena Rasulullah SAW sempat menunjukkan mukjizatnya dengan mengusap usap puting kambing yang mandul dan tidak pernah menghasilkan susu dan kemudian dari kambing betina yang mandul itu menghasilkan air susu yang segar dan banyak. Abdullah bin Mas’ud r.a terpesona dengan kejadian tersebut dan semakin kagum dengan ketinggian akhlak Rasulullah SAW yang begitu indah.

Abdullah bin Mas’ud pun masuk islam dan termasuk dalam golongan yang awal awal masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud r.a sangat tertarik dengan bahasa Al Qur’an dan dia belajar sungguh sungguh untuk mendalaminya. Kalau dulu dia dianggap sebelah mata oleh penduduk Mekkah karena seorang budak kini dia menjadi pendidik bagi masyarakat Mekkah bila mereka hendak belajar Al Qur’an. Sungguh Allah SWT akan meninggikan kedudukan seseorang karena Al Qur’an dan akan merendahkan kedudukan seseorang juga dengan Al Qur’an.

Abdullah bin Mas’ud juga seorang ahli hikmah ,pernah suatu hari dia memberi nasihatnya “Wahai sekalian manusia, hendaklah kalian taat dan selalu berada dalam jamaah, karena yang demikian adalah tali Allah yang telah diperintahkan, dan sesungguhnya sesuatu yang kalian tidak sukai dalam berjamaah lebih baik daripada sesuatu yang kalian cintai dalam berpecah belah”.

Saat umur 60 tahun Sahabat yang mulia ini menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan sembilan anak perempuan. Disaat sakaratul maut Amirul Mukmini Utsman bin Affan datang menengoknya dan menawarkan sebagian harta Khalifah untuk anak anak perempuannya, tapi Abdullah Ibnu mas’ud menolaknya dan berkata “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang membaca surat al-waqiah maka tidak menimpa dirinya kekurangan selamanya”. (Ibnu Asakir).

Beliau beristirahat untuk selama lamanya bersama sahabat sahabat yang lain di pemakaman Baqi.

Read More......

Jago jago duel di medan Badar

Pagi hari itu matahari menyinari dengan cerah di dekat mata air Badar. Pagi itu akan menjadi saksi atas pertempuran dua kubu berlawanan yaitu antara al haq dan al bathil. Allah menyebut hari itu dengan Furqan karena hari itu menjadi pembeda antara pihak yang berjuang untuk kebenaran Islam dan pihak yang menentang kebenaran Islam. Rasulullah SAW memilih pasukannya di sektor timur agar pihak musuh kafir Quraisy menempatkan pasukannya disebelah barat sehingga pandangan mereka silau oleh teriknya sinar mentari dan agar pandangan mereka menjadi lemah.

Lalu kaum Quraisy mengeluarkan tiga jagoannya yaitu Utbah bin Rabiah, Syaibah bin rabiah dan Al walid bin Utbah untuk menantang duel dan segera tiga pemuda dari Ansor Madinah menjawab tantangan itu. Hanya saja ketiga jago duel dari Quraisy menolak, dan meminta pada Nabi SAW agar mengirim tiga orang yang setara dengan mereka dan dari orang Makkah sendiri. Nabi SAW segera memerintahkan tiga orang dari satu keluarga juga untuk menghadapi tantangan itu. Dan mereka tak lain keluarga Nabi sendiri. Yaitu Hamzah bin Abdul Muttolib, Ali bin Abi Tholib bin Abdul Muttolib, dan Ubaidah bin Harist bin Abdul Muttolib.

Mereka pun saling berhadap-hadapan, saling berpasangan. Ubaidah berhadapan dengan Utbah, Hamzah dengan Syaibah, dan Ali dengan Al Walid. Para petarung ini berada di tengah-tengah kedua pasukan yang sudah siap siaga untuk berperang. Perbedaan jumlah pasukan sangat terlihat jelas ketika mereka membentuk dua kubu yang saling berdekatan. 1000 orang prajurit dengan persenjataan lengkap akan menghadapi 313 orang prajurit dengan dua ekor kuda yang dibawa oleh Zubair dan Miqad dan 70 unta yang dikendarai bergantian, sebagai panglima perangnya adalah Mus’ab bin Umair dengan senjata seadanya.

Sedangkan dari pihak musuh mereka membawa 1000 orang prajurit yang terlatih dan yang telah banyak pengalamannya tentang perang. Persenjataan lengkap sekali, semua prajuritnya berpakaian perang. Mereka mempunyai 100 orang prajurit berkuda, dan 700 ekor unta.Perbandingannya satu banding tiga.

Perang tanding ini menjadi jamuan awal akan peperangan yang sesungguhnya. Masing masing pihak sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dengan penuh congkak dan kesombongan tiga jagoan dari kafir Quraisy memamerkan keahlian pedangnya. Memang benar mereka bertiga adalah dari satu keluarga yang ahli dalam bermain pedang. Tapi dari pihak kaum muslimin yang diturunkan dalam fase pertama perang juga bukan orang sembarangan. Keluarga Abdul Mutalib dikenal sebagai keluarga terhormat dan terpandang disuku Quraisy. Maka jadilah perang tanding ini sebagai tontonan menarik dari jago jago pedang dari Suku Quraisy.

Hamzah tak kesulitan menaklukkan Utbah yang memang telah senja usianya. Begitu pula Ali yang dengan mudah mengakhiri nyawa Walid. Hanya Ubaidah yang kakinya tertebas oleh Syaibah, sebagaimana dia mampu menusuk Syaibah. Sebelum akhirnya Syaibah diselesaikan berdua oleh Hamzah dan Ali.

Melihat ketiga jagoannya tewas bersimbah darah panaslah dada kaum kafir Quraisy. Mereka secara beramai-ramai langsung menyerbu, merangsek, dan melancarkan serangan membabi buta. Suara gemuruh teriakan mereka pun bersambut dengan suara takbir kaum Muslimin yang menggelegar. Suara tameng, pedang, dan tombak pun berdentang. Debu ikut menari-nari, membubung, seolah membungkus arena perang di tengah udaranya panas yang peka.

Pertempuran berlangsung dengan dahsyat. Di akhir pertempuran terdapat jumlah kurban kaum muslimin 14 orang (6 dari kaum muhajirin dan 8 dari kaum anshor), sedangkan kaum musyirikin mendapatkan 70 orang pasukannya terbunuh dan 70 orang lagi menjadi tawanan. Masalah tawanan beliau bermusyawarah dengan para sahabatnya, Abu Bakar mengusulkan agar dibebaskan dengan syarat mereka membayar tebusan jika tidak maka tiap mereka mengajarkan 10 anak kaum muslimin membaca, sedangkan Umar mengusulkan agar dibunuh lalu Rasulullah SAW lebih condong kepada pendapat Abu Bakar, lalu turunlah surat Al Anfal: 67-69 yang menegur Rasulullah SAW yang isinya membenarkan pendapat Umar.

Read More......

Majikan yang penuh dengan sumber ilmu

Pada suatu musim haji berangkatlah serombongan umat muslim dari Madinah untuk menunaikan ibadah haji ke Kota suci Mekkah. Rombongan itu dipimpin oleh Sahabat Nabi yang mulia Abdullah bin Umar bin Khattab r.a. Ketika rombongan sedang melanjutkan perjalanan tiba tiba Abdullah bin Umar bin Khattab atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Umar r.a pergi menghilang dari rombongan kebalik semak semak pepohonan dan menunaikan buang hajat.

Tentu saja anggota rombongan merasa heran karena setiap kali melewati daerah itu Ibnu Umar selalu pergi menghilang kebalik semak semak pepohonan dan menunaikan buang hajat. Akhirnya ada anggota rombongan yang berani menanyakan sebab Ibnu Umar r.a melakukan hal itu “ Ya Ibnu Umar mengapa engkau selalu buang hajat setiap melewati daerah ini ?” maka jawab Ibnu Umar r.a “ Sesungguhnya aku pernah berjalan bersama Rasulullah melewati jalan ini dan pada saat itu ia menyingkir sesaat menuju semak semak pepohonan untuk menunaikan buang hajat, aku ingin meniru apa yang dilakukan beliau SAW karena rasa cintaku yang mendalam kepada Rasulullah SAW”. Para sahabat Ibnu Umar r.a tertegun mendengar jawaban seperti itu, mereka makin yakin dengan apa yang pernah Ummul Mukminin Aisyah r.a katakan tentang pribadi Ibnu Umar, Aisyah r.a berkata “Tidak pernah aku temui seorang sahabat Nabi SAW yang paling ingin meniru sunnah Beliau SAW dengan sangat gigih kecuali aku dapatkan pada diri Ibnu Umar r.a”

Ibnu Umar r.a seorang periwayat hadits yang banyak dan masuk dalam kalangan ulama diantara sahabat sahabat Nabi yang lain. Ia sangat mencintai sunnah dan ilmu serta menjauhkan diri dari hiruk pikuk politik. Pernah Amirul Mukminin Utsman bin Affan r.a menawari ia sebagai hakim namun ia menolaknya

Ibnu Umar selalu menghabiskan malamnya dengan ibadah, zikir dan doa karena Rasulullah SAW pernah mewasiatkan kepadanya untuk menghabiskan malamnya dengan ibadah yang hal itu akan menambah makin fakihnya dia dengan ilmu ilmu agama. Salah seorang muridnya yang paling utama adalah bekas budaknya sendiri yaitu Nafi ‘ rahimahullah. Tabi’in yang satu ini banyak menimba ilmu dari majikannya dan kelak Nafi’ rahimahullah menjadi rujukan para ulama bila bertanya tentang ilmu fikih dan tafsir. Begitulah sebagian contoh kehidupan para sahabat yang mulia, mereka mengajari ilmu bukan hanya kepada istri dan anak anaknya saja tapi malah bekas budaknya menjadi ulama terkenal berkat torehan dan asuhan dari majikan yang penuh dengan sumber ilmu.

Salah seorang sahabat Ibnu Umar r.a yaitu Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan: “Ibnu Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar. Umar hidup pada masa banyak orang yang sebanding dengan dia, sementara Ibnu Umar hidup di masa yang tidak ada seorang pun yang sebanding dengan dia”.

Ibnu Umar wafat pada tahun 72 Hijriah dalam usia yang panjang. Sebagian ulama tarikh menyebut usia sahabat nabi yang mulia ini sampai 84 tahun. Wallahu’alam

Read More......

Umat dulu dan Umat sekarang

Bila disebut nama Abu Bakar As Shiddiq r.a maka kita akan teringat tentang sejarah emas yang telah ia tulis dalam membantu dakwah Rasulullah SAW. Dia adalah laki laki dewasa yang pertama kali beriman, lelaki yang paling Nabi cintai, mertua kesayangan Nabi, juga sebagai Khalifah pertama sepeninggal Rasulullah SAW.

Beliau seorang saudagar yang sukses dan kaya raya. Hasil dari perniagaannya itu ia infakkan dijalan Allah seperti membeli perbekalan untuk pasukan jihad,membebaskan budak dan menginfakkan tanah untuk baitul mal. Abu Bakar As Shiddiq lah orang yang menemani Rasulullah SAW sewaktu berhijrah ke Madinah. Perjalanan yang berat dan penuh resiko ini ditempuh dengan ikhlas oleh Abu Bakar. Saat yang paling genting adalah saat mereka menghadapi kejaran musuh kafir Quraisy dan bersembunyi di sebuah gua yang kecil dan sempit. Hampir saja saat itu mereka berdua ketahuan kalau bukan karena mendapat pertolongan dari Allah. Musuh yang hampir masuk kedalam gua itu dibuat sanksi oleh adanya sarang laba laba dimulut gua sehingga berpikir tidak mungkin ada orang yang masuk kedalam gua karena harus merusak sarang laba laba tersebut untuk masuk kedalamnya lagi pula disana ada burung yang sedang bertelur ditemani anak anaknya, maka sudah pastilah burung itu akan terbang menjauh bila ada orang asing yang masuk kedalam gua. Toh meski demikian bukan berarti Abu Bakar merasa sudah aman. Sesungguhnya yang paling ia khawatirkan adalah keselamatan Rasulullah SAW. Begitu tinggi rasa takut yang dialami Abu Bakar hingga bergetar tubuhnya. Maka Rasulullah menenangkan hatinya dengan ucapan “Sesungguhnya Allah bersama kita”. Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa Allah senantiasa bersama para hambanya yang ikut berjuang dalam membela risalah Islam.

Hal ini tentu berbeda dengan jawaban yang pernah diberikan oleh Nabi Musa a.s ketika bersama pengikutnya dari Bani Israil sedang berada dalam puncak ketakutan karena dikejar oleh Fir’aun laknatullah dan bala tentaranya. Saat itu kaum bani isra’il bertanya apa yang akan terjadi dengan mereka, apa mereka akan selamat dari kejaran Fir’aun. Maka Nabi Musa a.s menjawab” Sesungguhnya Allah bersamaku”. Karena memang selain umat Nabi Muhammad SAW mereka tidak dikenakan kewajiban berdakwah menyampaikan risalah kenabian. Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus sebagai Rasulullah bila ada orang yang akan menyebarkan risalah agama tauhid maka ia hendaknya menjadi seorang Nabi terlebih dahulu. Seperti Nabi Musa a.s saat hendak menemui Fir’aun maka ia meminta saudaranya Harun agar bisa diikutsertakan dalam perjalanan dakwahnya. Karena Harun memiliki lidah yang lebih fasih dalam berbicara, sedangkan Musa a.s kurang fasih dalam berbicara disebabkan sewaktu kecil pernah memakan bara api. Maka Allah memenuhi permintaan Nabi Musa a.s dan mengangkat Harun sebagai salah satu NabiNya

Seharusnya umat islam memiliki ghirah yang tinggi karena setiap muslim diberi kemuliaan sebagai penerus risalah Islam untuk disampaikan kepada semua umat manusia. Sesungguhnya Allah akan menolong hambanya selagi hamba tersebut menolong agamaNya. Inilah hal yang dilakukan oleh Abu Bakar As Shiddiq r.a dan juga para sahabat yang lain dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Mereka adalah kaum yang paling gigih dalam membela Nabinya. Mereka adalah kaum yang paling mencintai Nabinya. Kecintaan para sahabat kepada Nabinya melebihi kecintaan mereka kepada suami, istri,anak atau harta benda yang mereka usahakan. Pernah sehabis pasca peperangan Uhud seorang wanita mendapat berita duka tentang syahidnya suami ,anak dan saudara lelakinya. Tapi yang ia tanyakan adalah keadaan Rasulullah SAW, dan saat diberitakan kepadanya bahwa Rasulullah SAW selamat maka ia berkata “Sungguh semua duka yang aku rasakan terasa ringan saat mengetahui Rasulullah dalam keadaan selamat”.

Sekarang bagaimanakah keadaanya dengan kita saat ini. Apakah kita akan merasa sedih saat agama ini telah dijadikan second activity dalam kehidupan sehari hari dan umat lebih mengutamakan gemerlap dunia dengan segala rayuannya..??

Read More......

Nikmatnya Berinfak Fisabilillah

Setiap hari Abu Dahdah r.a selalu mengunjungi kebun kesayangannya. Kebunnya adalah salah satu kebun terbaik yang ada di Kota Madinah. Didalamnya ditanami kurma dan tanaman buah buahan lainnya. Ditengah kebun mengalir mata air yang sejuk dan jernih. Demikian sejuk dan menyegarkan airnya hingga bisa dipakai untuk minum apalagi bila suasana yang panas terik menerpa kawasan madinah. Ditengah kebun dibangun pondok kecil tempat melepas lelah dan merehatkan diri saat suasana sumpek sedang melanda. Terkadang Abu Dahdah juga melakukan sholat sunnah didalamnya. Sungguh nikmat memiliki kebun yang istimewa seperti itu.Hasil dari kebun itu senantiasa memuaskan dan Abu Dahdah beserta istri dan anaknya selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.

Suatu hari Rasulullah saw membuat majelis ilmu. Para sahabat sudah hadir dan mengelilingi Rasulullah SAW dengan rapat. Mereka sudah siap menerima tausiyah dari Kekasih yang paling mereka cintai. Hingga tiba saat Rasulullah SAW membacakan sebuah ayat Al-Qur’an yaitu QS Al Baqarah: 245 “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Setelah selesai membaca ayat ini maka berdirilah Abu Dahdah r.a dan berkata “ Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Dahdah kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”

“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda, sesungguhnya aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” Rasulullah menyahut “Kau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Dahdah,”

Kemudian Abu Dahdah mengucapkan takbir dengan semangat yang luar biasa seperti telah memperoleh sebuah kemenangan besar dan memang sungguh ia telah memperoleh kemenangan akhirat atas perniagaan yang baru ia lakukan. Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia segera menyuruh istri dan anaknya yang sedang ada didalam kebun untuk segera keluar dan menjelaskan bahwa ia baru saja meminjamkan kebun ini untuk Allah dan menyampaikan ganjaran yang akan diperoleh dengan ganjaran yang berlipat lipat dan sesungguhnya balasan akhirat itu lebih baik dari pada balasan didunia ini.

Ummu Dahdah mengerti betul apa maksud perkataan suaminya karena ia adalah wanita muslimah tulen hasil didikan Rasulullah SAW. Ketika Ummu Dahdah hendak beranjak pergi dari kebun ia melihat anaknya sedang mengunyah buah kurma. Maka ia segera mengambil kurma itu dan menyuruh anaknya memuntahkan kurma dimulutnya sambil berkata “Muntahkan kurma itu. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt.”

Subhanallah…indahnya hidup bila suami istri paham dengan amal agama. Istri paham betul bahwasanya rejeki itu sudah diatur oleh Allah dan nikmat menginfakkan harta dijalan Allah telah mendarah daging dihatinya. Bila suami beramal maka istri mendukung dan bila suami sedang malas maka istri mengingatkan. Adakah kenikmatan yang lebih tinggi daripada kenikmatan berjuang/berjihad atau membantu agama Allah dan kemudian didukung oleh istri kita ?? semoga saja kita diberi keutamaan dalam berjuang membantu tegaknya kalimatillah..amiin

Read More......