Tampilkan postingan dengan label ~ Rasulullah SAW ~. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ~ Rasulullah SAW ~. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

Pentingnya Sunnah Rasulullah SAW

Dari Anas bin Malik ra. katanya, Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Hai anakku! Jika engkau mampu tidak menyimpan dendam kepada orang lain sejak dari pagi sampai ke petangmu, hendaklah engkau kekalkan kelakuan itu! Kemudian beliau menyambung pula: Hai anakku! Itulah perjalananku (sunnahku), dan barangsiapa yang menyukai sunnahku, maka dia telah menyukaiku, dan barangsiapa yang menyukaiku, dia akan berada denganku di dalam syurga! ‘ (Riwayat Tarmidzi)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi SAW yang berkata: “Barangsiapa yang berpegang dengan sunnahku, ketika merata kerusakan pada ummatku, maka baginya pahala seratus orang yang mati syahid”. (Riwayat Baihaqi)

Thabrani dan Abu Nu’aim telah mengeluarkan sebuah Hadis marfu’ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Nabi SAW telah bersabda: Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam zaman kerusakan ummatku akan mendapat pahala orang yang mati syahid. Hakim pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. juga bahwa Nabi SAW telah berkata: Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam masa perselisihan diantara ummatku adalah seperti orang yang menggenggam bara api. (Kanzul Ummal)

Dan Imam Muslim pula meriwayatkan dari Anas ra. dari Rasulullah SAW katanya: Orang yang tidak suka kepada sunnahku, bukanlah dia dari golonganku!

Kemudian Imam Daraquthni pula mengeluarkan sebuah Hadis dari Siti Aisyah r.a. dari Nabi SAW katanya: Barang siapa yang berpegang kepada sunnahku akan memasuki syurga!

Read More......

Pentingnya Mentaati Rasulullah SAW

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Barangsiapa yang mentaatiku, maka dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka dia telah mendurhakai Allah. Begitu pula, barangsiapa yang mentaati petugasku, maka dia telah mentaatiku, dan barangsiapa mendurhakai petugasku, maka dia telah mendurhakaiku.’
(Riwayat Bukhari)

Juga dari Abu Hurairah ra. lagi, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Semua ummatku akan memasuki syurga kecuali yang enggan memasukinya. Siapa yang mentaatiku akan memasuki syurga, dan siapa yang mendurhakaiku, maka dialah orang yang enggan memasuki syurga.’
(Riwayat Bukhari)

Jabir ra. bercerita, katanya” Suatu peristiwa datanglah beberapa Malaikat kepada Nabi SAW ketika beliau sedang tidur, lalu mereka berkata: Bahwa sesungguhnya teman kamu ini dapat diberikan beberapa perumpamaan, cobalah berikan perumpamaan baginya! Maka berkata yang satu: Dia ini sedang tidur. Yang lain berkata: Meskipun matanya tidur, namun hatinya tetap sadar! Lalu berkata pula Malaikat yang lain: Perumpamaan temanmu ini ialah perumpamaan seorang lelaki yang baru selesai membangun sebuah rumah, lalu dia pun mengadakan undangan makan, dan mengundang orang datang kepadanya. Jadi, sesiapa yang menerima undangan itu, dia akan memasuki rumah itu, dan dapatlah dia memakan dari makanan yang disediakan itu. Dan sesiapa yang menolak undangan itu, tidak akan memasuki rumah itu, dan tidak dapatlah dia memakan dari makanan yang disediakan di situ! Kemudian berkata Malaikat yang mendengar perumpamaan itu: Jelaskanlah perkara ini kepadanya (Nabi Muhammad) supaya dia mengerti! Lalu ada Malaikat yang berkata: Bukankah dia sedang tidur?! Jawab yang lain: Bukankah sudah aku katakan; matanya saja yang tidur, namun hatinya sadar (dapat menangkap maksud dari berita ini). Maka para Malaikat itu pun berkata: Rumah itu diibaratkan dengan ‘Syurga’, dan orang yang mengundang itu ialah ‘Muhammad’ itu sendiri. Tegasnya, siapa saja yang mentaati Muhammad, maka dia mentaati Allah. Dan siapa saja yang mendurhakai Muhammad, maka dia mendurhakai Allah. Dan Muhammad itu adalah penengah (di antara Allah) dengan manusia!
(Riwayat Bukhari)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Hanyalah perumpamaanku dan perumpamaan apa yang diutus Allah kepadaku adalah perumpamaan seorang lelaki yang datang kepada suatu kaum, lalu dia berkata kepada mereka: Hai kaumku! Saya lihat dengan mataku sendiri, ada suatu bala tentara yang datang, dan saya adalah pemberi peringatan yang yang paling jujur, maka selamatkanlah diri kamu! Selamatkanlah! Kerana itu ada di antara kaumnya yang mentaatinya, maka dari sejak malam mereka telah keluar melarikan diri dengan secara teratur, hingga akhirnya mereka selamat. Ketika sekumpulan yang lain telah mendustakannya, dan mereka terus menetap di tempat mereka. Akhirnya, mereka sejak pagi buta telah diserang oleh bala tentara musuh itu, yang membinasakan mereka serta memukul bersih apa saja yang ada di hadapannya. Itulah dia perumpamaan siapa yang mentaatiku serta menuruti apa yang saya sampaikan kepadanya. Demikian pula perumpamaan siapa yang mendurhakaiku serta mendustakan apa yang saya sampaikan kepadanya dari perkara kebenaran itu.’
(Riwayat Darimi)

http://kisahislami.com

Read More......

Keistimewaan Rasulullah SAW dan Umatnya dalam Kitab Terdahulu

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Atha’ bin Yasar, Aku telah menemui Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra. lalu bertanya kepadanya “Beritahulah aku tentang sifat-sifat Rasulullah SAW yang ditemui di dalam Taurat! Maka jawabnya: Demi Allah, memang benar, bahwa Nabi kita itu tersebut sifatnya di dalam Taurat, sebagaimana yang terdapat sifatnya di dalam Al-Quran, yaitu berbunyi: Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi dan pembawa berita gembira dan ancaman, dan sebagai penghulu dari ummat yang ummi. Engkau adalah hambaku dan utusanKu.

Aku namakan engkau Mutawakkil (orang yang menyerahkan diri kepada Tuhannya), engkau bukan seorang yang keras atau kasar, dan bukan orang yang suka berteriak di pasar. Engkau bukanlah orang yang membalas keburukan dengan yang keburukan, akan tetapi engkau suka memaafkan dan mengampunkan. Dan dia itu tidak akan diambil nyawanya, sehingga mereka (pengikutnya) meluruskan agama yang bengkok ini dengan mengucapkan ‘Laa llaaha illallaah!’ yakni tiada Tuhan melainkan Allah! Dengan itu dia dapat membuka mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang tertutup.

Wahab bin Munabbih juga berkata bahwa Allah ta’ala telah mewahyukan kepada Nabi Daud a.s di dalam kitab Zabur, yang berbunyi “Hai Daud! Ingatlah, bahwa akan datang selepasmu seorang Nabi namanya Ahmad atau Muhammad, dia seorang yang benar, penghulu sekalian Nabi, Aku tidak akan marah sama sekali kepadanya, dan dia juga tidak pernah menyebabkan Aku marah.

Aku sudah mengampuninya sebelum dia berbuat salah atas segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Ummatnya senantiasa dirahmati, Aku telah memberikannya Nawafil, yakni amalan-amalan sunnat sebagaimana yang Aku berikan kepada para Nabi, dan Aku telah mewajibkan ke atas mereka (ummat Nabi Muhammad) bermacam-macam fardhu, yang telah Aku wajibkan ke atas semua para Nabi dan para Rasul, sehingga mereka nanti datang kepadaku di hari kiamat, di mana cahaya mereka seperti cahaya-cahaya para Nabi. Hai Daud! Bahwa sesungguhnya Aku telah utamakan Muhammad dan ummatnya di atas sekalian ummat seluruhnya.
(Al-Bidayah Wan-Nihayah)

Read More......

Rasulullah SAW Takut Terhadap Kekayaan Dunia yang Melimpah

Imam Bukhori dan Imam Muslim mengeluarkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a di dalam sebuah hadits, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk di atas mimbar dan kami pun duduk di sekitar beliau, lalu beliau bersabda,

“Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian ialah jika Allah membukakan kesenangan dan perhiasan dunia kepada kalian.”

Asy-Syaikhani juga mengeluarkan sebuah hadits dari Amr bin Auf Al-Anshay Radhiyallahu Anhu, yang di dalamnya dia berkata, “Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“TerimaIah kabar gembira dan satu harapan bagi kalian Demi Allah, bukan kemiskinn yang aku takutkan terhadap kalian, tetapi aku justru takut jika dunia dihamparkan kepada kalian, sebagaimana yang pernah dihamparkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu mereka saling berlomba untuk mendapatkannya, sehingga kalian menjadi binasa seperti yang mereka alami.”

Ya’qub bin Sufyan mengeluarkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwa Allah mengutus seorang malaikat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang disertai Jibril Alaihi Salam. Malaikat itu berkata,

“Sesungguhnya Allah menyuruh engkau untuk memilih, apakah engkau menjadi hamba dan nabi, ataukah menjadi raja dan sekaligus nabi.”

Beliau menoleh ke arah Jibril layaknya orang yang meminta saran. Maka Jibril memberi isyarat, agar beliau merunduk dan patuh. Maka beliau menjawab,

“Aku pilih menjadi hamba dan nabi.”

Setelah kejadian ini beliau tidak perah makan sambil telentang, hingga beliau wafat.

http://kisahislami.com/rasulullah-saw-takut-terhadap-kekayaan-dunia-yang-melimpah/

Read More......

Wanita Bangsawan Dengan Kemulian Sejati

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki seorang istri dari kalangan bangsawan yang bernama Fathimah binti Abdul Malik. Fathimah adalah seorang putri Khalifah terdahulu. Fathimah memiliki perhiasan yang paling mahal. Perhiasan itu tidak pernah dimiliki oleh wanita lain di muka bumi. Di antara perhiasan-perhiasan itu, ada dua anting-anting mariyah yang terkenal dalam sejarah. Para penyair pun menyebut perhiasan itu dalam syairnya. Seandainya anting-anting itu dijual, maka akan cukup untuk mengenyangkan satu suku yang besar.

Ketika tinggal bersama ayahnya, Fathimah hidup dalam kemewahan dunia. Namun ketika menjadi istri Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau hidup dengan sederhana. Khalifah memberikan nafkah hanya beberapa dirham dalam sehari. Fathimah rela dengan hal itu dan gembira hidup qonaah, hidup apa adanya dan senang dengan kesederhanaan.

Kholifah Umar bin Abdul Aziz selalu menasehati istrinya untuk banyak bershodaqoh. Fathimah binti Abdul Malik adalah istri yang taat, dia mematuhi nasehat suaminya. Semua perhiasan dan mutiara yang dibawanya diserahkan ke baitul mal kaum muslimin. Demikianlah kemulian sejati yang dimilikinya, dia tetap hidup sederhana walaupun mampu hidup mewah. Hidup sederhana tidaklah mengurangi kemuliaan dirinya. Wallahu ‘alam Bishshowab.

Read More......

Imam Hasan bin Ali r.a Bercerita Tentang Kakeknya

Cucu Rasulullah yaitu Imam Hasan bin Ali r.a pernah menceritakan tentang pribadi kakeknya yang agung, beliau berkata ” Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam suatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan Rasulullah SAW berzikir kepada Allah SWT, Rasulullah SAW tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila Rasulullah SAW sampai kepada suatu tempat, di situlah Rasulullah SAW duduk sehingga selesai majelis itu dan Rasulullah SAW menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, maka Rasulullah SAW terus melayaninya dengan penuh kesabaran sehingga orang itu bangun dan kembali.

Rasulullah SAW tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya sesuatu keperluan, jika ada maka diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budi pekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Rasulullah SAW dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, sabar menunggu, amanah, tidak pernah terdengar suara yang tinggi, tidak ada kemaksiatan didalamnya, tidak disebut yang kotor dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda disayangi yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Imam Hasan bin Ali r.a lagi ” Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya sungguh mulia, selalu berlemah-lembut, tidak keras atau kasar, tidak suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau berkata kosong, segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Rasulullah SAW tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Rasulullah SAW tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.

Apabila Rasulullah SAW berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila Rasulullah SAWa berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Rasulullah SAW tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan Rasulullah SAW merasa takjub bila mereka merasa takjub. Rasulullah SAW selalu bersabar bila didatangi orang badui yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mau mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi Rasulullah SAW tetap menyabarkan mereka dengan berkata: “Jika kamu dapati seseorang yang memerlukan bantuan, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!”. Rasulullah SAW juga tidak mengharapkan pujian dari siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, Rasulullah SAW tidak menyuruh untuk berbuat begitu. Rasulullah SAW tidak pernah memotong pembicaraan sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah Rasulullah SAW berbicara, atau Rasulullah SAW menjauh dari tempat itu.

Read More......

Ummu Hani r.a Yang Penyayang Terhadap Anak-anaknya

Dia bernama Fakhitah, seorang wanita dari kalangan bangsawan Quraisy. Putri paman Rasululloh SAW, Abu Thalib bin Abdul Muththalib. Ibunya bernama Fathimah binti Asad. Dia saudari kandung Imam Ali, Aqil dan Ja’far, putra-putra Abu Thalib.

Dia begitu mengerti tentang agungnya hak seorang suami. Dia pun mengerti tentang hak anak-anak yang ditinggalkan suaminya dalam asuhannya. Dia tak ingin menyia-nyiakan satu pun dari keduanya, hingga dia dapatkan pujian yang begitu mulia, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Semasa belum masuk Islam, Rasululloh SAW pernah meminangnya. Pada saat bersamaan, seorang pemuda bernama Hubairah bin Abi Wahb Al-Makhzumi pun meminangnya pula. Abu Thalib menjatuhkan pilihannya pada Hubairah hingga akhirnya Abu Thalib menikahkan Hubairah dengan putrinya. Dari pernikahan ini, lahirlah putra-putra Hubairah, di antaranya Ja’dah bin Hubairah yang kelak di kemudian hari diangkat Ali bin Abi Thalib r.a ketika menjabat sebagai khalifah sebagai gubernur di negeri Khurasan. Putra-putra yang lainnya adalah Amr, namun putranya ini meninggal ketika masih kecil, serta Hani` dan Yusuf.

Namun pada akhirnya, Islam memisahkan mereka berdua. Ketika Allah SWT membukakan negeri Makkah bagi Rasulullah SAW dan manusia berbondong-bondong masuk Islam, Ummu Hani r.a pun berislam bersama yang lainnya. Mendengar berita keislaman Ummu Hani`, Hubairah pun melarikan diri ke Najran.

Pada hari pembukaan negeri Makkah itu, ada dua kerabat suami Ummu Hani dari Bani Makhzum, Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, datang kepada Ummu Hani untuk meminta perlindungan. Waktu itu datang pula ‘Ali bin Abi Thalib r.a menemui Ummu Hani sambil mengatakan, “Demi Allah, aku akan membunuh dua orang tadi!” Ummu Hani pun menutup pintu rumahnya dan bergegas menemui Rasululloh SAW.

Saat itu Rasulullah SAW tengah mandi, ditutup oleh putri beliau, Fathimah r.a dengan kain. Ummu Hani pun mengucapkan salam, hingga Rasululloh SAW bertanya, “Siapa itu?” “Saya Ummu Hani putri Abu Thalib,” jawab Ummu Hani`. Rasulullah SAW pun menyambutnya, “Marhaban, wahai Ummu Hani`!”

Lalu Ummu Hani mengadu kepada Rasulullah SAW tentang kedatangan dua kerabat suaminya untuk meminta perlindungan kepadanya sementara Ali berkeinginan membunuh mereka. Maka beliau pun menjawab, “Aku melindungi orang yang ada dalam perlindunganmu dan memberi jaminan keamanan pada orang yang ada dalam jaminan keamananmu.” Usai mandi, Rasulullah SAW menunaikan shalat delapan rakaat. Waktu itu adalah waktu dhuha.

Setelah Ummu Hani berpisah dari suaminya karena keimanan, Rasulullah SAW datang untuk meminang Ummu Hani`. Namun dengan halus Ummu Hani menolak, “Sesungguhnya aku ini seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan perhatian yang menyita banyak waktu. Sementara aku mengetahui betapa besar hak suami. Aku khawatir tidak akan mampu untuk menunaikan hak-hak suami.” Maka Rasulullah SAW mengurungkan niatnya. Beliau mengatakan, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Ummu Hani r.a meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah SAW yang hingga saat ini termaktub dalam Al-Kutubus Sittah. Dia pun menyebarkan ilmu yang telah dia peroleh hingga saat akhir kehidupannya, jauh setelah masa khilafah saudaranya, Imam Ali bin Abi Thalib r.a, pada tahun ke-50 H. Ummu Hani r.a semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala meridhainya. Al-Bidayah wan Nihayah

Read More......

Mangkuk yang Cantik, Madu yang Manis dan Sehelai Rambut

Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah Az Zahra r.ha. putri kesayangan Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut ikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu yang manis, dan sehelai rambut).

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar bin Khattab r.a berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Utsman bin Affan r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Fathimah Az Zahra r.ha. berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Read More......

Intelejen Dalam Perang Badar (1)

Perang Badar merupakan “purnama” dalam sejarah kemanusiaan yang menerangi jalan para penempuh jalan. Perang Badar merupakan “purnama” yang bersinar di langit dan dirayakan oleh para malaikat. Perang Badar merupakan “purnama” di bumi dan di kalangan para penduduknya. Orang-orang yang ikut berperang benar-benar menjadi purnama yang cahayanya menerangi seluruh sisi kehidupan mereka. Perang Badar merupakan “purnama” dalam sejarah berbagai pembebasan militer. Bintang-bintangnya menerangi dengan berbagai pelajaran dan hikmah mereka. Perang Badar merupakan “purnama” dan garis pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Juga menjadi mahkota kebanggaan di atas kepala zaman dan kepala setiap pahlawan Islam yang ikut serta di dalamnya. Di dalam masyarakat Islam tidak ada seorang pun yang dapat mengungguli keutamaan para mujahidin Badar.

Perang Badar dinilai sangat signifikan dalam aspek sejarah, kemiliteran, politik dan pemikiran karena ia merupakan pertarungan bersenjata yang pertama kali terjadi antara pembela kebenaran dengan pembela kebatilan. Pertarungan ini dinilai sangat menentukan karena di dalam pertarungan inilah ditentukan nasib Kaum Mukminin dan kaum kafir. Salah satu pernyataan Rasulullah SAW tentang peperangan ini mengisyaratkan urgensi pertempuran ini seandainya kaum Musyrikin berhasil mengalahkan kaum Mukminin. Nabi Muhammad SAW mengungkapkan doa dan munajat kepada Allah, memohon kemenangan yang dijanjikanNya “Ya Allah, jika Engkau suka, Engkau tidak akan disembah setelah hari ini”

Bila kita membaca sirah Nabi SAW di dalam perang Badar dan semua peperangan yang pernah dilakukannya, pasti akan mengetahui betapa besar perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap langkah intelejen untuk mendapatkan berbagai informasi tentang musuhnya dan perhitungan yang cermat terhadap semua gerak dan diam yang ditunjukkan oleh musuh. Oleh sebab itu Rasulullah SAW mengutus sejumlah pasukan kecil untuk menginvestigasi dan mengintai pasukan musuh. Biasanya sebelum keberangkatan pasukan, Nabi Muhammad SAW memberangkatkan satu pasukan kecil yang bertugas menjelajahi wilayah di depannya, sebagai langkah antisipasi terhadap serangan rahasia atau menghindari pengintaian dan pelacakan.

Dalam peperangan ini Rasulullah SAW menugaskan dua orang sahabat, Basbas bin Amir r.a dan Ady bin Abu Za`ba r.a untuk mencari informasi tentang Abu Sufyan hingga mendapatkan informasi tentang tempat keberadaannya. Keduanya mendengar informasi tersebut dari dua orang wanita dan dibenarkan oleh seorang tua bernama Majdi bin Amir. Setelah mendapatkan informasi itu keduanya lalu kembali kepada Rasulullah SAW melaporkan “Wahai Rasulullah, dia tinggal di mata air anu pada hari anu, dan kita tinggal di mata air anu pada hari anu, dia turun di mata air anu pada hari anu sedangkan kita turun di mata air anu, hingga kita bertemu dia di mata air tersebut”

Perhatikanlah bagaimana pasukan perintis dan investigasi ini menggunakan berbagai informasi yang diperolehnya untuk memperkirakan waktu dan tempat pertemuan dengan kafilah, apabila segala sesuatunya berjalan secara normal tanpa ada hal-hal yang insidental. Setelah turun di dekat mata air Badar, Nabi Muhammad SAW ingin mendapatkan berbagai informasi tentang Quraisy, kemudian Nabi SAW bersama Abu Bakar r.a turun menemui seorang tua yang mengetahui berbagai gerakan di wilayah tersebut. Nabi Muhammad SAW menanyakan kepadanya tentang berita Quraisy dan Muhammad beserta para sahabatnya. Kemudian orang tua itu memberitahukan tempat kedua belah pihak dengan sangat akurat.

Ketika Quraisy mengirimkan pasukannya untuk memerangi kaum Muslimin di Badar, Rasulullah SAW mengutus Ali bin Abi Thalib r.a, Zubair bin Awwam r.a, Sa`ad bin Abi Waqqash r.a dan Basbas bin Amir r.a untuk mencari berbagai berita kaum Musyrikin di mata air, sehingga mereka mendapati sejumlah petugas urusan persediaan air lalu mereka menangkap dan membawa dua orang diantaranya ke kamp kaum Muslimin untuk di interogasi. Rasulullah SAW sendiri yang menginterogasi kedua orang tersebut sehingga berhasil mendapatkan sejumlah informasi akurat tentang Qurisy baik menyangkut jumlah, peralatan ataupun para pemimpin mereka. Diantara interogasi tersebut adalah :

Nabi Muhammad SAW : Berapa jumlah mereka ?

Kedua orang Quraisy : Banyak

Nabi Muhammad SAW : Apa perlengkapan mereka ?

Kedua orang Quraisy : Kami tidak tahu

Nabi Muhammad SAW : Berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap hari ?

Kedua orang Quraisy : Kadang sehari sembilan ekor dan kadang sepuluh

Nabi Muhammad SAW : Mereka antara Sembilan ratus dan seribu orang. Siapa saja para pemimpin Quraisy yang ikut ?

Kedua orang Quraisy : Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Al Bukhturi bin Hisyam dan lima belas tokoh Quraisy lainnya

Kemudian Rasulullah SAW menghadap kepada para sahabatnya seraya berkata “Mekkah telah melemparkan jantung hatinya kepada kalian”

Read More......

Intelejen Dalam Perang Badar (2-End)

Sejarah mencatat bahwa pemimpin Quraisy Abu Sufyan bin Harb juga dikenal sangat waspada dan hati-hati. Ia mencari berbagai berita tentang kaum Muslimin dan menanyakan gerakan-gerakan mereka, bahkan ia sendiri ikut melacak informasi tentang kaum Muslimin. Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Abu Sufyan datang dari Syam dengan terlebih dahulu sampai di mata air Badar. Dengan penuh waspada ia bertanya kepada orang-orang yang ada di tempat tersebut “Apakah kalian melihat seseorang ?”. mereka menjawab “Tidak, kecuali dua orang”. Abu Sufyan berkata “Tunjukkan aku kepada tempat tambatan kendaraan kedua orang tersebut”. Kemudian mereka memberitahukannya. Abu Sufyan lalu mengambil tahi binatang dan menghancurkannya sampai dia menemukan biji-bijian. Abu Sufyan berkata “Demi Allah, ini adalah pakan hewan dari Yatsrib”.

Abu Sufyan berhasil mengetahui gerakan-gerakan musuhnya sampai berita tentang ekspedisi investigasi, melalui pakan binatang tunggangannya dan setelah mengamati tahi unta yang ditinggalkannya. Akhirnya ia mengetahui bahwa kedua orang tersebut berasal dari Madinah yakni Kaum Muslimin dan dengan demikian kafilah dagangannya dalam bahaya.

Dari paparan diatas dapat diambil pelajaran bahwa seorang komandan hendaknya menyembunyikan segala sesuatu yang mungkin bisa dijadikan oleh pihak musuh sebagai bahan untuk menyimpulkan informasi. Sesuatu tersebut bisa jadi sangat tidak berharga tetapi hendaknya tidak disepelekan. Di zaman modern musuh bisa mengetahui banyak hal tentang musuhnya apabila diketahui jumlah makanan sehari-hari yang dikonsumsinya. Juga bisa mengambil kesimpulan jika telah diketahui jumlah bahan bakar yang dihabiskan oleh semua kendaraan musuh, sehingga bisa diperkirakan berapa jumlahnya dan apa jenisnya.

Kadang-kadang pasukan menyembunyikan berapa jumlah korban yang dialaminya tetapi ia lupa akan satu sisi yang bisa menjadi indikasinya, misalnya ucapan bela sungkawa di berbagai media massa, sehingga pihak lawan dapat menyimpulkan berapa kerugian yang dialaminya melalui ucapan bela sungkawa tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan benar-benar seorang pemimpin yang patut diingat dengan peristiwa dan kehati-hatiannya. Demikian pula kaum Muslimin patut mengambil pelajaran dari kasus ini.

Setelah menyadari bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya tengah memburu kafilah dan bisa saja mereka menguasainya dalam sesaat, Abu Sufyan segera mengambil dua langkah strategi.
Pertama, memilih Dhamdham bin Amir Al Ghifari sebagai utusan kepada Quraisy untuk meminta bala bantuan bagi penyelamatan kafilah mereka yang tengah dicegat oleh Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Kedua, mengubah jalur perjalanan kafilah yang berkemungkinan telah dicegat oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya menuju kearah pantai laut merah dan berjalan menyelamatkan kafilah melalui jalur Saiful Bahr hingga sampai ke Mekkah.

Dari langkah strategi pertama yang dilakukan Abu Sufyan dapat diambil sebuah pelajaran yang sangat penting, yaitu memilih seseorang yang sesuai untuk tugas yang sesuai. Manusia memiliki sejumlah potensi dan kemampuan yang beraneka ragam, ilmiah, manajemen, kepemimpinan, sosial, peperangan dan lain sebagainya. Seorang pemimpin yang sukses adalah orang yang mengetahui berbagai potensi dan kemampuan prajuritnya kemudian menata dan memfungsikan masing-masing pada posisi yang sesuai dan produktif, yang akan bermanfaat bagi kemaslahatan umum.

Abu Sufyan telah berhasil memilih Dhamdham bin Amir Al Ghifari untuk meminta bala bantuan Quraisy dan menggerakkannya dengan cepat demi melindungi keselamatan kafilah dagang. Lalu Dhamdham bin Amir Al Ghifari melakukan aksi yang menarik perhatian seisi kota Mekkah. Setiap orang yang melihat atau mendengarnya pasti akan terpesona. Ia datang kepada mereka dengan menggeser pelana untanya, memotong hidung untanya, merobek bajunya dari arah depan dan belakang dan masuk Kota Mekkah seraya berteriak lantang “Wahai Kaum Quraisy! Kafilah! Kafilah! Harta kalian yang dibawa Abu Sufyan terancam Muhammad dan para sahabatnya. Aku tidak melihat kecuali kalian harus segera menyusulnya. Selamatkan! Selamatkan!”

Read More......

Bersedekah akan Menyehatkan Jiwa dan Raga

Salah satu manfaat sedekah yang dapat dipetik pelakunya adalah kesembuhan dari berbagai penyakit jiwa dan raga. Dengan kata lain, sedekah adalah sebagai ikhtiar seseorang untuk mengobati penyakit yang selama ini tengah ia derita. Realita ini telah dipraktekkan oleh sejumlah orang yang telah terbukti khasiatnya. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah hadits “obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah” (HR Baihaqi). Ibnu Al Hajj berkata “Sedekah yang dimaksud disini ialah si sakit membeli dirinya dari Rabbnya dengan nilai yang ia anggap pantas untuk dirinya disisiNya. Sebuah keniscayaan bila sedekah mempunyai pengaruh terhadap kesembuhan, sebab Rasulullah SAW yang membawa informasi ini seseorang yang jujur, sedangkan yang di informasikan berasal dari Zat Yang Maha Mulia lagi Maha Memberi”.

Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Ibnu Mubarak rahimahullah tentang luka bernanah di lututnya yang diderita selama tujuh tahun, dan para dokter telah angkat tangan menyerah mengobatinya. Ibnu Mubarak menyuruh orang itu untuk menggali sumur di tempat orang membutuhkan air, ia berkata “Saya berharap ada mata air yang mengalir dari sumur tersebut sehingga darah tidak keluar lagi dari tubuhmu”. Kisah lain adalah apa yang menimpa Abu Abdullah Hakim, penyusu kitab Al Mustadrak. Di wajahnya pernah muncul luka-luka dan tak kunjung sembuh hingga kurang lebih satu tahun. Ia meminta doa kepada ahli kebaikan dan mereka pun banyak berdoa memohon kesembuhannya. Kemudian ia bersedekah kepada kaum muslimin, yakni dengan menyediakan air minum untuk umum di depan rumahnya, orang-orang bisa minum sepuasnya. Belum genap satu pekan tanda-tanda kesembuhan mulai terlihat, luka-lukanya menghilang dan wajahnya kembali pulih bahkan lebih tampan dari sebelumnya. Fenomena ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al Munawi telah dipraktekkan oleh orang-orang yang beruntung (yakni berobat dengan bersedekah) dan mereka menemukan bahwa obat spiritual mampu melakukan apa yang tidak mampu dilakukan obat medis. Tidak ada yang menyangkal fenomena ini kecuali orang yang mata hatinya telah tertutup.

Selain itu sedekah juga mampu mengobati penyakit hati, yaitu kikir. Sebab secara fitrah manusia mencintai hartanya. Banyak ayat yang menunjukkan betapa besar kecintaan manusia terhadap harta benda. Dengan bersedekah pada hakikatnya seseorang tengah mengikis sifat kikir yang mungkin saja selama ini bersemayam dalam dirinya. Sebelum bersedekah dalam dirinya berseteru antara dua sifat yang bertolak belakang yaitu kikir dan keinginan ingin berbagi kepada sesama, sekaligus ingin memberangus sifat bakhil. Bila ia mampu mengalahkan kekikiran yang ada dalam dirinya maka ia mendapatkan keberuntungan. Inilah yang telah disampaikan oleh Allah SWT dalam firmannya “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Al Hasyr ayat 9).

Resep menghindari keburukan dengan sedekah pernah dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri, yaitu ketika terjadi gerhana. Telah kita ketahui bersama bahwa gerhana adalah salah satu tanda kebesaran Allah. Ketika orang-orang kebingungan menyaksikan peristiwa gerhana matahari, Rasulullah SAW bersabda “Maka apabila kalian menyaksikan peristiwa tersebut berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah sholat dan bersedekahlah” (HR Bukhari). Ibnu Daqiq Al`id berkata ketika menjelaskan hadits ini “Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang anjuran memberi sedekah pada peristiwa menakutkan guna menolak bencana yang dikhawatirkan akan menimpa”.

Mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat adalah dambaan setiap muslim. Hal ini terlihat secara nyata dalam doa yang sering kali dilantunkan dan tidak bosan-bosannya dipanjatkan kepada Zat Yang Maha mengbulkan doa. Sering kali doa ini disebut-sebut sebagai doa sapu jagad yang mengindikasikan kandungannya yang meliputi segalanya. Doa inilah yang paling sering dilantunkan Nabi Muhammad SAW “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

Sedekah adalah satu sarana untuk mewujudkan cita-cita di atas, yaitu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini membuktikan bahwa sedekah merupakan sarana luar biasa dalam perjalanan seorang muslim guna mewujudkan cita-citanya serta meraih keselamatan di dunia dan akhirat, baik selamat dari mara bahaya maupun hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam hadits Rafi` bin Khudaij dengan sanad marfu` disebutkan “Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu keburukan” (HR Thabrani).

Read More......

Tak Perlu Berduka Karena Sedikitnya Harta

Rezeki merupakan salah satu nikmat Allah, sekaligus amanah yang cukup berat dari Allah. Acap kali ketika seseorang mendapatkan rezeki mereka lupa diri, terkunci hatinya untuk bersyukur atas anugerah Allah tersebut. Allah memperingatkan bahaya bagi orang yang tidak memanfaatkan rezeki sesuai syariatNya “Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambNya lagi Maha Melihat “(QS Asy Syura ayat 42)

Sungguh rezeki itu merupakan tanda kasih dan kemurahan Allah. Betapa Allah memberikan kepada setiap makhlukNya curahan rezeki. Dalam hal ini Allah berfirman “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberikan rezekinya” (QS Hud ayat 6). Artinya tidak ada binatang melata di muka bumi ini yang Allah tidak menentukan rezekinya, dan tidak ada jiwa yang mati melainkan dia telah memakan makanan terakhir yang ditakdirkan atasnya. Manusia dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya harus berusaha mencari rezeki dengan cara halal. Jika dia telah berusaha tetapi masih mendapat kekurangan jangan sampai ada pikiran untuk mencarinya dengan cara yang haram. Sebaik-baik cara menghadapi kekurangan ini adalah bersabar dan tetap bersyukur kepadaNya.

Dalam menyikapi kemiskinan dan kekayaan Rasulullah SAW telah memberikan penilaian yang mungkin tidak pernah terbetik dalam benak kita. Sebuah standard yang berorientasi jauh ke depan, bukan terpancang pada hal-hal yang tampak belaka. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda “Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta tapi kaya itu adalah kaya jiwa” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan sedikit harta, hidup seseorang tak mesti sengsara. Orang yang bergelimang harta pun hidupnya belum tentu bahagia. Kenyataannya banyak orang kaya raya hidupnya merana. Lihatlah para artis yang mati sia-sia karena menghabisi jiwanya atau para pengusaha yang menderita gangguan jiwa. Mereka bukanlah orang-orang yang kekurangan harta. Tapi karena satu hal,yaitu mereka tidak bahagia !

Itu berarti bahagia dan sengsara tidak mutlak tergantung pada harta, tetapi lebih pada hati. Hati yang dipenuhi rasa syukur kepada Allah terhadap apa pun dan berapa pun pemberian Allah. Lihatlah orang yang paling mulia, Rasulullah SAW. Istri beliau, Aisyah r.a menceritakan kondisi rumah tangga beliau, ia mengatakan “Keluarga Muhammad SAW sejak awal tiba di Madinah tidak pernah sampai merasakan kenyang karena menyantap hidangan dari gandum halus selama tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal”.

Beliau SAW memiliki tikar yang terbuat dari kulit dan tilam dari serabut. Dalam beberapa malam berturut-turut beliau dan keluarga pernah tidak mendapatkan makan malam. Rotinya pun terbuat dari gandum yang kasar. Pernah tiga kali hilal dalam dua bulan berturut-turut dari dapur beliau tidak terlihat kepulan asap. Makanan beliau SAW terbuat dari dua jenis yang berwarna hitam; kurma dan air. Potret lain yang ikut mewarnai dunia kesahajaan adalah Umar bin Khattab r.a. Ia seorang Khalifah kaum muslimin. Meski begitu pakaian beliau dipenuhi dengan dua belas tambalan. Suatu hari pernah Khalifah Umar agak terlambat menghadiri shalat Jumat karena mencuci bajunya dan tidak memiliki baju yang lain yang dapat digunakan untuk shalat Jumat selain baju itu. Rumahnya hanya sebuah gubuk. Namun ia mampu mengguncang istana Kisra dari Persia.

Allah SWT berfirman “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS Luqman ayat 17). Dalam ayat lain Allah menyampaikan bahwa kekurangan harta adalah salah satu bentuk ujian yang seharusnya disikapi dengan kesabaran. Allah SWT berfirman “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al Baqarah ayat 155)

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia akan menguji hambanya sepanjang hidup mereka dengan rasa takut,kemiskinan dan sebagainya. Dengan demikian akan tampak mana hamba Allah yang taat dan mana pula yang kufur. Tentunya hamba Allah yang teguh dalam ketaatan kepadaNya akan mendapatkan kabar gembira. Lantas apa wujud dari kabar gembira tersebut ?Kabar gembira yang telah dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang bersabar menjalani ujian kehidupan ini adalah sebagaimana yang tertera dalam firman Allah “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas” (QS Az Zumar ayat 10)

Read More......

Perjuangan Rasulullah SAW

Baihaqi memberitakan dari Abdullah bin Ja’far ra. katanya: Apabila Abu Thalib telah meninggal dunia, mulailah Nabi SAW diganggu dan ditentang secara terang-terangan. Satu peristiwa, beliau telah dihadang di jalanan oleh salah seorang pemuda jahat Quraisy, diraupnya tanah dan dilemparkan ke muka beliau, namun beliau tidak membalas apa pun. Apabila beliau tiba di rumah, datang salah seorang puterinya, lalu membersihkan muka beliau dari tanah itu sambil menangis sedih melihat ayahnya diperlakukan orang seperti itu. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepada puterinya itu: ‘Wahai puteriku! Jangan engkau menangis begitu, Allah akan melindungi ayahmu!’ beliau membujuk puterinya itu. Beliau pernah berkata: Sebelum ini memang kaum Quraisy tidak berani membuat sesuatu seperti ini kepadaku, sehinggalah selepas Abu Thalib meninggal dunia, mulailah mereka menggangguku dan mengacau ketenteramanku. Dalam riwayat yang lain, beliau berkata kepadanya karena menyesali perbuatan jahat kaum Quraisy itu: Wahai paman! Alangkah segeranya mereka menggangguku sesudah engkau hilang dari mataku!
(Hilyatul Auliya 8:308; Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:134)

Thabarani telah memberitakan dari Al-Harits bin Al-Harits yang menceritakan peristiwa ini, katanya: Apabila aku melihat orang ramai berkumpul di situ, aku pun tergesa-gesa datang ke situ, menarik tangan ayahku yang menuntunku ketika itu, lalu aku bertanya kepada ayahku: ‘Apa sebab orang ramai berkumpul di sini, ayah?’ ‘Mereka itu berkumpul untuk mengganggu si pemuda Quraisy yang menukar agama nenek-moyangnya!’ jawab ayahku. Kami pun berhenti di situ melihat apa yang terjadi. Aku lihat Rasulullah SAW mengajak orang ramai untuk mengesakan Allah SWT dan mempercayai dirinya sebagai Utusan Allah, tetapi aku lihat orang ramai mengejek-ngejek seruannya itu dan mengganggunya dengan berbagai cara sehinggalah sampai waktu tengah hari, maka mulailah orang bubar dari situ. Kemudian aku lihat seorang wanita datang kepada beliau membawa air dan sehelai kain, lalu beliau menyambut tempat air itu dan minum darinya. Kemudian beliau mengambil wudhuk dari air itu, sedang wanita itu menuang air untuknya, dan ketika itu agak terbuka sedikit pangkal dada wanita itu. Sesudah selesai berwudhuk, beliau lalu mengangkat kepalanya seraya berkata kepada wanita itu: Puteriku! lain kali tutup rapat semua dadamu, dan jangan bimbang tentang ayahmu!
Ada orang bertanya: Siapa dia wanita itu? jawab mereka: Itu Zainab, puterinya – radhiallahu anha. (Majma’uz-Zawa’id 6:21)

Dalam riwayat yang sama dari Manbat Al-Azdi, katanya: Pernah aku melihat Rasulullah SAW di zaman jahiliah, sedang beliau menyeru orang kepada Islam, katanya: ‘Wahai manusia sekaliani Ucapkanlah ‘Laa llaaha lliallaah!’ nanti kamu akan terselamat!’ beliau menyeru berkali-kali kepada siapa saja yang beliau temui. Malangnya aku lihat, ada orang yang meludahi mukanya, ada yang melempar tanah dan kerikil ke mukanya, ada yang mencaci-makinya, sehingga ke waktu tengah hari. Kemudian aku lihat ada seorang wanita datang kepadanya membawa sebuah kendi air, maka beliau lalu membasuh wajahnya dan tangannya seraya menenangkan perasaan wanita itu dengan berkata: Hai puteriku! Janganlah engkau bimbangkan ayahmu untuk diculik dan dibunuh … ! Berkata Manbat: Aku bertanya: Siapa wanita itu? Jawab orangorang di situ: Dia itu Zainab, puteri Rasuluilah SAW dan wajahnya sungguh cantik. (Majma’uz Zawa’id 6:21)

Bukhari meriwayatkan dari Urwah r.a. katanya: Aku bertanya Amru bin Al-Ash ra. mengenai apa yang dideritai Nabi SAW ketika beliau berdakwah mengajak orang masuk Islam, kataku: ‘Beritahu aku tentang perbuatan yang paling kejam yang pernah dibuat oleh kaum musyrikin terhadap Rasulullah SAW? Maka Amru berkata: Ketika Nabi berada di Hijir Ka’bah, tiba-tiba datang Uqbah bin Abu Mu’aith, lalu dibelitkan seutas kain pada tengkuk beliau dan dicekiknya dengan kuat sekali. Maka seketika itu pula datang Abu Bakar ra. lalu diambilnya bahu Uqbah dan ditariknya dengan kuat hingga terlepas tangannya dari tengkuk Nabi SAW itu. Abu Bakar berkata kepada Uqbah: ‘Apakah engkau hendak membunuh orang yang mengatakan ‘Tuhanku ialah Allah!’ padahal dia telah membawa keterangan dari Tuhan kamu?!’
(Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:46)

Suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Amru bin Al-Ash ra. katanya: Aku tidak pernah melihat kaum Quraisy yang hendak membunuh Nabi SAW seperti yang aku lihat pada suatu hari di bawah lindungan Ka’bah. Mereka bersepakat merencanakan pembunuhan beliau sedang mereka duduk di sisi Ka’bah. Apabila Rasulullah SAW datang dan bersembahyang di Maqam, lalu bangunlah Uqbah bin Abu Mu’aith menuju kepada Rasulullah SAW dan membelitkan kainnya ke tengkuk beliau, lalu disentaknya dengan kuat sekali, sehingga beliau jatuh tersungkur di atas kedua lututnya. Orang ramai yang berada di situ menjerit, menyangka beliau telah mati karena cekikan keras dari Uqbah itu. Maka ketika itu segeralah Abu Bakar ra. datang dan melepaskan cekikan Uqbah dari Rasulullah SAW itu dari belakangnya, seraya berkata: Apa ini? Adakah engkau hendak membunuh orang yang mengatakan ‘Tuhanku ialah Allah!’ Uqbah pun segera berundur dari tempat Rasulullah SAW itu kembali ke perkumpulan teman-temannya para pemuka Quraisy itu. Rasulullah SAW hanya bersabar saja, tidak mengatakan apa pun. Beliau lalu berdiri sholat, dan sesudah selesai sholatnya dan ketika hendak kembali ke rumahnya, beliau berhenti sebentar di hadapan para pemuka Quraisy itu sambil berkata: ‘Hai kaum Quraisy! Demi jiwa Muhammad yang berada di dalam genggaman Allah! Aku diutus kepada kamu ini untuk menyembelih kamu!’ beliau lalu mengisyaratkan tangannya pada tenggorokannya, yakni beliau rnenjanjikan mereka bahwa mereka akan mati terbunuh. ‘Ah, ini semua omong kosong!’ kata Abu jahal menafikkan ancaman Nabi SAW itu. ‘Ingatlah kataku ini, bahwa engkau salah seorang dari yang akan terbunuh!’ sambil menunjukkan jarinya ke muka Abu jahal.
(Kanzul Ummal 2:327)

Read More......

Tauriyah Dalam Pembicaraan Pernah Dilakukan Rasulullah SAW dan Nabi Ibrahim a.s

Diantara hal yang telah ditetapkan di dalam Islam ialah bahwa “perang adalah tipu daya”. Tipu daya di sini maksudnya adalah memperdaya dan mengelabui musuh dalam perang.
Tipu daya atau pengelabuan memiliki banyak bentuk, diantaranya ialah tauriyah dalam pembicaraan. Tauriyah berasal dari kata kerja warraa artinya menyembunyikan. Maksudnya pembicara mengucapkan satu perkataan sedangkan yang dimaksudkannya adalah salah satu makna yang terkandung di dalam perkataan tersebut tetapi makna ini tidak biasanya difahami secara langsung oleh pendengarnya.
Pernah di awal kisah peperangan Badar Rasulullah Muhammad SAW menjawab pertanyaan orang yang menginformasikan kepadanya tentang perjalanan kaum Quraisy dan kaum muslimin. Saat itu orang tersebut bertanya kepada Nabi SAW “Dari siapa kalian berdua?” Nabi Muhammad SAW menjawab “Kami dari air”. Setelah Nabi SAW beranjak pergi orang itu lalu berkata “Tidak ada yang datang dari air. Apakah dari mata air Irak?”
Maksud Nabi Muhammad SAW ialah bahwa Allah menciptakannya dari air sebagaimana disebutkan di dalam firmanNya “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air (QS An Nur ayat 45) dan firmanNya “Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” (QS Mursalat ayat 20).
Tauriyah (pemakaian bahasa yang mengandung bias bagi pendengarnya) terhadap musuh adalah boleh bahkan dianjurkan atau kadang-kadang menjadi wajib jika bisa menyelamatkan jiwa atau mencegah terjadinya kezaliman terhadap kaum muslimin.

Termasuk tauriyah adalah apa yang diucapkan Nabi Ibrahim a.s ketika ia berjalan bersama kaumnya dan ingin kembali menghancurkan berhala-berhala dengan suatu trik. Firman Allah di QS Ash Shaffat ayat 88-99 “Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata `Sesungguhnya aku sakit` lalu mereka berpaling darinya dengan membelakang.
Sebenarnya Nabi Ibrahim tidak sakit secara fisik yang menyebabkannya tidak bisa bergerak dan berjalan karena tidak lama kemudian terbukti ia mampu menghancurkan berhala-berhala dengan pukulan-pukulan kuat yang menghancurleburkan berhala-berhala batu yang keras itu, sebagai mana disebutkan dalam firmanNya “Maka ia membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong” (QS Al Anbiya ayat 58)
Contoh lainnya seperti riwayat yang tercantum dalam Shahih Al Bukhari dari Nabi Muhammad SAW , bahwa pada suatu hari Nabi Ibrahim a.s berjalan bersama Sarah mendatangi salah seorang penguasa tiran. Lalu salah satu pengawal sang tiran berkata “Orang ini datang bersama wanita yang paling cantik”. Kemudian penguasa itu mengirimkan utusan dan menanyakan “Siapakah wanita ini?” Nabi Ibrahim a.s menjawab “Saudara perempuanku”. Kemudian Nabi Ibrahim mendekati Sarah dan berkata “Wahai Sarah, diatas permukaan bumi ini tidak ada orang beriman kecuali aku dan kamu. Penguasa itu bertanya kepadaku lalu aku memberitahukannya bahwa kamu adalah saudara perempuanku maka janganlah kamu mendustakan aku”.
Termasuk bahasa Tauriyah adalah jawaban Abu Bakar Ash Shiddiq r.a kepada salah seorang yang bertanya kepadanya tentang orang yang berkendaraan di depannya ketika berhijrah ke Madinah, yakni Nabi Muhammad SAW. Kemudian Abu Bakar menjawab “Orang yang menunjuki jalanku”. Penanya memahami makna yang tidak dimaksudkan oleh Abu Bakar r.a, sedangkan yang dimaksudkan Abu Bakar bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang menunjuki jalannya kepada kebaikan dan syurga. Penanya memahami bahwa orang tersebut adalah penunjuk jalan.
Demikianlah tauriyah dalam pembicaraan dengan musuh adalah dibolehkan, bahkan islam lebih jauh membolehkan bagi seorang muslim untuk melakukan tauriyah dalam sumpahnya apabila sumpah itu diminta oleh musuh atau orang zalim sedangkan dia mengkhawatirkan jiwanya atau kebinasaan orang lain dari kalangan kaum muslimin.
Abu Dawud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dengan sanadnya dari Suwaid bin Hanzhalah, ia berkata “Kami keluar hendak bermaksud menemui Rasulullah SAW , kemudian Wa`il bin Hajar salah seorang anggota romongan kami ditangkap musuh sehingga orang-orang merasa berkeberatan untuk bersumpah, tetapi aku bersumpah bahwa dia adalah saudaraku lalu ia pun dibebaskan. Kemudian kami datang kepada Rasulullah SAW lalu memberitahukannya bahwa orang-orang berkeberatan untuk bersumpah tetapi aku bersumpah bahwa dia adalah saudaraku, kemudian Nabi SAW bersabda “Kamu benar, orang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain”.
Setelah menyebutkan hadits ini, Ibnu Qudamah berkata “Tindakan ini dan yang semisalnya adalah wajib karena menyelamatkan orang yang terlindungi adalah wajib”

Read More......

Ancaman Bagi Yang Menyekutukan Allah

Pada suatu hari Rasulullah SAW duduk-duduk di dalam masjid dengan para sahabatnya. Tiba-tiba datanglah Nadhr bin Harits dan duduk dengan mereka. Di dalam majelis itu terdapat beberapa orang Quraisy. Rasulullah SAW mengatakan sesuatu tetapi ditentang oleh Nadhr bin Harits. Lalu Rasulullah SAW pun mengajaknya berbincang sehingga membuat ia tidak berkutik. Kemudian beliau membacakan ayat yang dialamatkan kepadanya dan kepada mereka “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jahanam, kamu pasti masuk kedalamnya”(QS Al Anbiya ayat 98).

Kemudian Rasulullah SAW berdiri dan beranjak dari tempat itu. Lalu datanglah Abdullah bin Zaba`ri dari Bani Tamim kemudian ikut duduk dengan yang lainnya. Kemudian Walid bin Mughirah berkata kepadanya “Demi Allah, Nadhr bin Harits tidak berdiri karena kedatangan cucu Abdul Muthalib dan tidak pula duduk. Dan Muhammad sunguh-sungguh telah menduga bahwa kami dan semua yang kami jadikan sembahan adalah umpan neraka Jahaman.” Berkatalah Abdullah bin Zaba`ri “Demi Allah, kalau saja aku mendapatinya pastilah aku akan berdebat dengannya. Tanyakanlah kepada Muhammad, apakah setiap yang disembah selain Allah akan berada di dalam neraka Jahannam bersama orang yang menyembahnya? Kami ini adalah orang-orang yang menyembah para malaikat. Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang menyembah Uzair. Orang-orang Nashrani adalah orang-orang yang menyembah Isa putra Maryam”. Maka Walid dan orang-orang yang duduk-duduk bersamanya pun kagum terhadap perkataan Abdullah bin Zaba`ri. Dan mereka berpandangan bahwa dia telah mengemukakan alasan yang kuat dan melumpuhkan argumennya.

Kemudian hal itu diberitahukan kepada Nabi Muhammad SAW maka bersabdalah beliau “Setiap orang yang disembah selain Allah maka dia akan bersama orang yang menyembah kepadanya, karena sesungguhnya mereka itu menyembah setan dan orang yang menyuruh mereka untuk menyembahnya”. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat “Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka” (QS Al Anbiya ayat 101) Yang dimaksud oleh firman Allah ini adalah Isa, Uzair dan orang-orang yang disembah selain keduanya dari kalangan pendeta dan rahib yang telah menghabiskan umurnya di dalam ketaatan kepada Allah. Kemudian orang-orang yang sesudah mereka menjadikannya sebagai sembahan selain Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda “Hai orang-orang Quraisy, tidak ada kebaikan sedikitpun bagi orang yang disembah selain Allah”. Kemudian mereka mengatakan kepada Ibnu Abbas “Bukankah engkau mengatakan bahwa Isa itu adalah Nabi dan salah seorang hamba Allah yang shaleh, sedangkan dia telah dijadikan sembahan selain Allah?” Kemudian Allah menurunkan ayat” Dan tatkala putra Maryam dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu bersorak karenanya”

Dilain hadits Rasulullah SAW bersabda “Tidak ada satu kaum pun yang sesat setelah mereka berada di dalam petunjuk melainkan mereka akan mewariskan perdebatan. “Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Read More......

Saat Penjaga Arasy Lupa Dengan Bacaan Tasbih dan Tahmidnya

Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kakbah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berhenti di satu sudut Kakbah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.

Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.

Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”

Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.

Read More......

Berbagai Nikmat Allah Kepada Kaum Mukminin pada Perang Badar (3-end)

7. Menurunkan bala bantuan Malaikat kepada kaum Mukminin.

Allah SWT berfirman “(ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu,lalu diperkenankanNya bagimu”Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” (QS Al Anfal ayat 9)

Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa seorang pemimpin dan para prajuritnya harus memperbanyak doa dalam peperangan dan meminta bantuan kepada Allah. Nabi Muhammad saw berdoa kepada Allah di Badar,diantara doanya ialah “Ya Allah tunaikanlah janjiMu kepadaku. Ya Allah bantuanMu yang telah Engkau janjikan”

Tidak lama kemudian Rasulullah SAW berkata “Bergembiralah wahai Abu Bakar, golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. Kemudian Nabi saw menunjuk beberapa tempat kematian para tokoh Quraisy. Nabi saw tidak menyebutkan tempat kematian seseorang kecuali orang itu mati di tempat yang telah disebutkan

8. Memasukkan rasa gentar ke dalam hati orang-orang Kafir.

Allah swt berfirman “Kelak Aku akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir” (QS Al Anfal ayat 12)

Allah telah memenuhi hati mereka dengan rasa gentar terhadap kaum mukminin hingga mereka panik dan berpencar ke segala arah, lalu kaum mukminin dengan mudah memenggal kepala mereka dengan arahan langsung dari Allh “Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya dan barangsiapa menentang Allah dan RasulNya maka sesunggunya Allah amat keras siksaNya” (QS Al Anfal ayat 12-13)

Kepala-kepala yang busuk dan otak-otak yang kosong dari kebaikan, yang merancang berbagai maker jahat untuk melenyapkan kebaikan dengan cara membunuh Rasul pembawa kebaikan,Muhammad saw, mengusir kaum mukminin yang tidak berdosa dan merusak citra mereka dengan membuat berbagai propaganda palsu dan kesesatan yang nyata. Kepala-kepala seperti ini sudah tiba saatnya untuk dipenggal dan dipisahkan dari jasadnya.

Tangan-tangan yang telah piawai menimpakan berbagai siksaan kepada kaum mukminin dan mukminat di Mekkah itu, telah tiba saatnya untuk dipotong menjadi beberapa bagian sesuai dengan penyiksaan yang pernah dilakukannya terhadap kaum mukminin dan mukminat yang tidak bersalah. Memang telah tiba saatnya untuk dipenggal atau dipotong dan pemenggal atau pemotongnya adalah orang yang pernah merasakan bakaran apinya dan pukulan-pukulan penyiksaannya. Misalnya Bilal bin Rabah r.a yang membunuh Umaiyyah bin Khalaf sedangkan Abdullah bin Mas`ud r.a yang menebas kepala Abu Jahal.

9. Menaburkan Pasir

Allah mewahyukan kepada RasulNya pada awal pertempuran agar mengambil segenggam pasir lalu menaburkannya kearah kaum musyrikin. Kemudian Rasulullah SAW menghadap kearah orang-orang Quraisy dan menaburkannya seraya berkata “Semoga buruklah wajah-wajah mereka”. Kemudian Allah menyampaikan butir-butir pasir itu ke semua mata pasukan Musyrikin lalu masing-masing mereka sibuk mengurusi matanya dan mengabaikan pertempuran yang tengah mereka hadapi sehingga mereka menjadi makanan empuk bagi pedang-pedang pasukan muslimin yang menebas leher-leher mereka.

Taburan pasir itu memang dilakukan oleh Rasulullah SAW tetapi yang menyampaikannya ke semua mata pasukan musyrikin adalah Allah SWT. Tentang hal ini Allah SWT berfirman “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al Anfal ayat 17)

Sesungguhnya nikmat-nikmat yang dilimpahkan Allah kepada RasulNya dan para sahabatnya ini merupakan faktor kemenangan kaum muslimin dan kekalahan kaum musyrikin di Badar. Namun hal ini tidak hanya terbatas pada masa Rasulullah SAW dan bukan merupakan kekhususannya. Dengan demkian maka nikmat-nikmat dan faktor-faktor kemenangan ini bisa saja terjadi pada setiap zaman dan kaum yang telah menolong agama Allah tanpa memandang ras,warna kulit, bangsa, bahasa atau faktor-faktor kemanusiaan lainnya.

Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad ayat 7)

Karena itu kaum muslimin hari ini harus menolong agama Allah pada diri,keluarga,masyarakat dan berbagai muamalat mereka dengan menjalankan syariatNya dan mengumumkan jihad di jalanNya di bawah bendera Laa ilaha Illallah Muhammad Rasulullah.

Read More......

Berbagai Nikmat Allah Kepada Kaum Mukminin pada Perang Badar (2)

3. Rasulullah SAW bermimpi melihat kaum musyrikin berjumlah sedikit

Allah memperlihatkan kepada Rasulullah dalam mimpinya jumlah personil dan perlengkapan kaum musyrikin menjadi sedikit lalu Rasulullah SAW menyampaikannya kepada para sahabat.Sebagaimana diketahui setiap muslim bahwa mimpi para Nabi adalah benar,maka ketika mendengar informasi tersebut dari mimpi Nabi Muhammad SAW mereka semakin termotivasi dan terdorong untuk memerangi kaum musyrikin.

Seandainya Allah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW jumlah kaum musyrikin sangat banyak kemudian Nabi Muhammad SAW menyampaikannya kepada para sahabat, niscaya kaum muslimin akan terguncang, akan berselisih pendapat dan takut berperang melawan mereka,lalu timbul perpecahan di kalangan mereka sehingga melemahkan kekuatan mereka dan mengurangi kewibawaan mereka terhadap musuh. Tetapi Allah menyelamatkan mereka dari perpecahan ini dengan memperlihatkan kepada RasulNya jumlah kaum musyrikin nampak sedikit. Allah berfirman mengingatkan para hambaNya kepada nikmat dan karunia ini “Ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu(berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu(berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu” (QS Al Anfal ayat 43)

4. Kaum Muslimin melihat kaum Musyrikin berjumlah sedikit

Untuk menguatkan mimpi yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada kaum muslimin tersebut diatas,Allah memperlihatkan pula kepada kaum muslimin dalam keadaan terjaga (bukan lewat mimpi) bahwa jumlah kaum musyrikin sedikit, sehingga hal ini semakin menggerakkan dan mendorong mereka untuk memerangi kaum musyrikin.

Dari Abdullah bin Mas`ud r.a, ia berkata “Mereka telah dinampakkan sedikit dalam pandangan mata kami pada perang Badar hingga aku bertanya kepada seseorang yang ada disebelahku, apa kamu lihat mereka berjumlah tujuh puluh ? orang itu menjawab,” tidak, tetapi sertus”. Hingga akhirnya kami berhasil menangkap salah seorang diantara mereka lalu kami menanyakannya. Ia menjawab “Kami berjumlah seribu”

5.Mendorong Kedua belah pihak untuk berperang

Agar Allah melaksanakan urusanNya, agar terjadi peperangan dan berlangsung pertempuran berdarah,maka Allah mendorong masing-masing pihak dengan yang lainnya dengan membuat musuhnya nampak sedikit dalam pandangannya. Allah berfirman “Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian ketika kamu berjumpa dengan mereka,berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkanNya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS Al Anfal ayat 44)

Ada hikmah lain dari ditampakkannya sedikit jumlah kaum muslimin di mata kaum Musyrikin sebelum pertempuran ini, yaitu bila mereka menganggap sedikit jumlah kaum muslimin pasti mereka akan menganggap enteng dan tidak optimal dalam persiapan dan kehati-hatian, sehingga hal itu menjadi sebab keunggulan dan kemenangan kaum muslimin atas mereka.

6. Diantara nikmat Allah kepada kaum Mukminin di Badar pada permulaan peperangan ialah bahwa kaum muslimin masih tetap melihat sedikit jumlah kaum musyrikin, sedangkan Allah telah mengubah kondisi kaum musyrikin dengan menampakkan jumlah kaum muslimin menjadi banyak dalam penglihatan mata mereka hingga dua kali lipat jumlah kaum musyrikin. Sehingga hal ini semakin menggerakkan kaum muslimin untuk memerangi kaum musyrikin, menguatkan jiwa,hati dan maknawiyah mereka. Dan pada saat yang sama membuat kaum musyrikin menjadi gentar,karena merasa tidak ada kemampuan untuk memerangi kaum mukminin yang jumlah personil dan perlengkapan mereka jauh lebih banyak. Allah berfirman mengingatkan nikmat ini kepada para hambaNya “Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu(bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat(seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuanNya siapa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati” (QS Ali Imran ayat 13)

Read More......

Berbagai Nikmat Allah Kepada Kaum Mukminin pada Perang Badar (1)

Peperangan yang disebut Al Qur`an sebagai hari Furqan ini berlangsung dengan tadbir (pengaturan) dari Allah. Karena kedua pasukan (Pasukan Muslimin dan pasukan musyrikin) bertemu pada waktu yang sama dan di tempat yang sama, yaitu di mata air Badar, tanpa kesepakatan sebelumnya. Allah berfirman “ Ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran) pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan” (QS Al Anfal ayat 42)

Kaum muslimin tidak keluar untuk berperang tetapi hanya mencegat kafilah, sedangkan jumlah awak kafilah juga sedikit yang bisa ditumpas dengan mudah. Seandainya mengetahui keberangkatan Quraisy beserta para tokohnya untuk berperang niscaya kaum Muslimin akan memperbanyak personel dan senjata dan tidak cukup dengan jumlah dan perlengkapan seadanya tersebut.

Sementara itu kaum Musyrikin keluar dengan sombong dan pamrih kepada manusia untuk berpesta daging sembelihan,meminum khamar,dan mendengarkan biduanita menyanyikan lagu-lagu hiburan, agar bangsa Arab mengetahui keberangkatan mereka sehingga mereka akan senantisa takut kepada Quraisy sepanjang zaman. Dengan kata lain,keberangkatan mereka ini merupakan unjuk kekuatan militer untuk kepentingan opini massa dan propaganda.

Singkatnya, kedua kelompok itu keluar bukan untuk berperang. Terjadinya peperangan pada perkembangan berikutnya adalah merupakan hal yang insidentil dan diatur oleh Allah sedemikian rupa. Allah memudahkan semua faktor penyebab dan pendorong terjadinya peperangan yang membuat mereka melakukan hal yang diinginkan oleh Allah. Allah SWT berfirman “ akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan” (QS Al Anfal ayat 42). Yakni agar kelompok Mukminin yang berjumlah dan berperalatan sedikit,yang lapar,miskin dan telanjang (Ketika memandang para sahabatnya, Rasulullah Muhammad SAW berdoa “Ya Allah, sesungguhnya mereka tak berkendaraan maka angkutlah mereka, mereka telanjang maka berilah mereka pakaian, mereka lapar maka kenyangkanlah mereka, dan mereka miskin maka cukupilah mereka dari karuniaMu) itu mengalahkan kelompok Musyrikin yang berjumlah dan berperalatan banyak, yang hidup bermegah-megahan, yang tenggelam dalam kemaksiatan, kenistaan dan kerusakan.Agar kaum Mukminin meraih kemenangan dan sekaligus mendapatkan rampasan perang dengan merebut kafilah dagang. Masing-masing kaum mukminin telah pulang kembali dari perang Badar dengan membawa seekor atau dua ekor unta untuk tiga atau empat orang.

Orang yang berakal sehat tidak akan meragukan bahwa hal tersebut termasuk nikmat Allah terbesar kepada Kaum Mukminin, bahkan bukan hanya nikmat ini saja yang dikaruniakan Allah kepada Kaum Mukminin tetapi masih banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang lain,diantaranya :

1. Rasa kantuk dan tidur, Allah telah mengaruniakan rasa kantuk kepada pasukan mukminin sebelum pertempurn, sehingga mata mereka tertidur, fisik mereka beristirahat, dan jiwa mereka menjadi tenang. Ketika bangun seolah-olah mereka baru diciptakan dengan kejiwaan yang baru,mantap,tenang dan bersemangat menyala-nyala. Sedangkan musuh mereka telah menghabiskan waktu mereka sebelum peperangan dengan senantiasa berjaga, letih dan lesu, sehingga mereka menjadi tegang,lemas,labil,loyo fisik dan tidak tenang. Hal ini semua menyebabkan kemampuan berperang mereka menjadi lemah. Tentang nikmat rasa kantuk ini Allah berfirman mengingatkan karuniaNya kepada kaum mukminin “(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya” (QS Al Anfal ayat 11)

2. Menurunkan Hujan, Pasukan mukminin tidak memiliki persediaan air padahal mereka sangat memerlukannya untuk berwudhu dan menunaikan shalat yang diwajibkan atas mereka. Kebutuhan mereka terhadap air semakin terasa ketika sebagian mereka bangun dalam keadaan junub dan tidak mendapatkan air untuk bersuci. Kemudian syaitan pun mulai membisikkan kepada sebagian mereka, bagaimana kamu akan shalat dalam keadaan junub tanpa mandi?

Tetapi Allah memuliakan para hambaNya yang beriman dan berjihad, dengan menghapuskan bisikan keraguan dari jiwa mereka lalu Allah menurunkan hujan kepada mereka sehingga mereka bisa wudhu,mandi,minum,dan memenuhi tempat-tempat air mereka. Allah berfirman mengingatkan kaum mukminin kepada karunia dan nikmat ini “Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu) (QS Al Anfal ayat 11).

Ada manfaat lain yang sangat penting dari penurunan hujan yang berkaitan dengan aspek militer, yaitu membuat gerak langkah pasukan semakin cepat untuk mengambil posisi yang strategis. Allah menurunkan hujan dalam ukuran sedang kepada kaum mukminin lalu membuat tanah semakin rekat dan gerak langkah mereka menjadi lebih mudah dan cepat, sehingga mereka bisa sampai ke Badar mendahului kaum musyrikin lalu memilih posisi yang cocok dan mengatur pertahanan di tempat tersebut.

Sedangkan hujan yang turun pada pihak Musyrikin sangat lebat lalu membuat tanah becek sehingga gerak langkah mereka menjadi lamban dan sulit. Hal ini menimbulkan pengaruh pada jiwa pasukan yang berperang. Karena pada saat ia kesulitn untuk bergerak ketempat yang di inginkan, ia melihat musuhnya bergerak dengan mudah dan cepat lalu memilih posisi yang diinginkannya.

Read More......

Berbagai Nikmat Allah Kepada Kaum Mukminin pada Perang Badar (1)

Peperangan yang disebut Al Qur`an sebagai hari Furqan ini berlangsung dengan tadbir (pengaturan) dari Allah. Karena kedua pasukan (Pasukan Muslimin dan pasukan musyrikin) bertemu pada waktu yang sama dan di tempat yang sama, yaitu di mata air Badar, tanpa kesepakatan sebelumnya. Allah berfirman “ Ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran) pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan” (QS Al Anfal ayat 42)

Kaum muslimin tidak keluar untuk berperang tetapi hanya mencegat kafilah, sedangkan jumlah awak kafilah juga sedikit yang bisa ditumpas dengan mudah. Seandainya mengetahui keberangkatan Quraisy beserta para tokohnya untuk berperang niscaya kaum Muslimin akan memperbanyak personel dan senjata dan tidak cukup dengan jumlah dan perlengkapan seadanya tersebut.

Sementara itu kaum Musyrikin keluar dengan sombong dan pamrih kepada manusia untuk berpesta daging sembelihan,meminum khamar,dan mendengarkan biduanita menyanyikan lagu-lagu hiburan, agar bangsa Arab mengetahui keberangkatan mereka sehingga mereka akan senantisa takut kepada Quraisy sepanjang zaman. Dengan kata lain,keberangkatan mereka ini merupakan unjuk kekuatan militer untuk kepentingan opini massa dan propaganda.

Singkatnya, kedua kelompok itu keluar bukan untuk berperang. Terjadinya peperangan pada perkembangan berikutnya adalah merupakan hal yang insidentil dan diatur oleh Allah sedemikian rupa. Allah memudahkan semua faktor penyebab dan pendorong terjadinya peperangan yang membuat mereka melakukan hal yang diinginkan oleh Allah. Allah SWT berfirman “ akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan” (QS Al Anfal ayat 42). Yakni agar kelompok Mukminin yang berjumlah dan berperalatan sedikit,yang lapar,miskin dan telanjang (Ketika memandang para sahabatnya, Rasulullah Muhammad SAW berdoa “Ya Allah, sesungguhnya mereka tak berkendaraan maka angkutlah mereka, mereka telanjang maka berilah mereka pakaian, mereka lapar maka kenyangkanlah mereka, dan mereka miskin maka cukupilah mereka dari karuniaMu) itu mengalahkan kelompok Musyrikin yang berjumlah dan berperalatan banyak, yang hidup bermegah-megahan, yang tenggelam dalam kemaksiatan, kenistaan dan kerusakan.Agar kaum Mukminin meraih kemenangan dan sekaligus mendapatkan rampasan perang dengan merebut kafilah dagang. Masing-masing kaum mukminin telah pulang kembali dari perang Badar dengan membawa seekor atau dua ekor unta untuk tiga atau empat orang.

Orang yang berakal sehat tidak akan meragukan bahwa hal tersebut termasuk nikmat Allah terbesar kepada Kaum Mukminin, bahkan bukan hanya nikmat ini saja yang dikaruniakan Allah kepada Kaum Mukminin tetapi masih banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang lain,diantaranya :

1. Rasa kantuk dan tidur, Allah telah mengaruniakan rasa kantuk kepada pasukan mukminin sebelum pertempurn, sehingga mata mereka tertidur, fisik mereka beristirahat, dan jiwa mereka menjadi tenang. Ketika bangun seolah-olah mereka baru diciptakan dengan kejiwaan yang baru,mantap,tenang dan bersemangat menyala-nyala. Sedangkan musuh mereka telah menghabiskan waktu mereka sebelum peperangan dengan senantiasa berjaga, letih dan lesu, sehingga mereka menjadi tegang,lemas,labil,loyo fisik dan tidak tenang. Hal ini semua menyebabkan kemampuan berperang mereka menjadi lemah. Tentang nikmat rasa kantuk ini Allah berfirman mengingatkan karuniaNya kepada kaum mukminin “(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya” (QS Al Anfal ayat 11)

2. Menurunkan Hujan, Pasukan mukminin tidak memiliki persediaan air padahal mereka sangat memerlukannya untuk berwudhu dan menunaikan shalat yang diwajibkan atas mereka. Kebutuhan mereka terhadap air semakin terasa ketika sebagian mereka bangun dalam keadaan junub dan tidak mendapatkan air untuk bersuci. Kemudian syaitan pun mulai membisikkan kepada sebagian mereka, bagaimana kamu akan shalat dalam keadaan junub tanpa mandi?

Tetapi Allah memuliakan para hambaNya yang beriman dan berjihad, dengan menghapuskan bisikan keraguan dari jiwa mereka lalu Allah menurunkan hujan kepada mereka sehingga mereka bisa wudhu,mandi,minum,dan memenuhi tempat-tempat air mereka. Allah berfirman mengingatkan kaum mukminin kepada karunia dan nikmat ini “Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu) (QS Al Anfal ayat 11).

Ada manfaat lain yang sangat penting dari penurunan hujan yang berkaitan dengan aspek militer, yaitu membuat gerak langkah pasukan semakin cepat untuk mengambil posisi yang strategis. Allah menurunkan hujan dalam ukuran sedang kepada kaum mukminin lalu membuat tanah semakin rekat dan gerak langkah mereka menjadi lebih mudah dan cepat, sehingga mereka bisa sampai ke Badar mendahului kaum musyrikin lalu memilih posisi yang cocok dan mengatur pertahanan di tempat tersebut.

Sedangkan hujan yang turun pada pihak Musyrikin sangat lebat lalu membuat tanah becek sehingga gerak langkah mereka menjadi lamban dan sulit. Hal ini menimbulkan pengaruh pada jiwa pasukan yang berperang. Karena pada saat ia kesulitn untuk bergerak ketempat yang di inginkan, ia melihat musuhnya bergerak dengan mudah dan cepat lalu memilih posisi yang diinginkannya.

Read More......